Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Tempoyak, Fermentasi Durian Jambi yang Ubah Kari Ayam Jadi Luar Biasa

Kompas.com, 26 Maret 2026, 21:33 WIB
Afif Khoirul Muttaqin,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

Sumber FiberCreme

KOMPAS.com – Bagi sebagian orang, durian adalah Raja Buah yang paling nikmat disantap langsung saat matang. 

Namun, bagi masyarakat di Sumatera dan Kalimantan, khususnya di Jambi, durian punya cara yang berbeda dalam menyantapnya.

Alih-alih dijadikan pencuci mulut yang manis, durian justru difermentasi menjadi bahan masakan gurih yang menggugah selera bernama Tempoyak.

Mengutip ulasan kuliner dari laman FiberCreme, Tempoyak adalah bukti nyata kreativitas kuliner nusantara dalam mengolah hasil alam. 

Teknik fermentasi ini tidak hanya memperpanjang masa simpan durian saat musim panen melimpah, tetapi juga menciptakan dimensi rasa baru, asam, gurih, dengan aroma durian yang tetap kuat namun lebih halus.

Baca juga: Resep Kue Padamaran, Makanan Manis Khas Jambi untuk Buka Puasa

Apa itu tempoyak? mengenal proses fermentasinya

Ilustrasi sambal tempoyak. SHUTTERSTOCK/AKMALFARIS Ilustrasi sambal tempoyak.
Tempoyak bukanlah durian biasa. Hidangan ini dibuat dari daging buah durian masak yang dipisahkan dari bijinya, kemudian diberi sedikit garam dan disimpan dalam wadah kedap udara selama tiga hingga tujuh hari.

Berdasarkan penjelasan dari FiberCreme, proses fermentasi alami ini melibatkan bakteri asam laktat yang mengubah gula dalam durian menjadi asam laktat. 

Hasil akhirnya adalah pasta durian berwarna kekuningan dengan tekstur lembut yang punya rasa asam yang unik. Inilah yang menjadi nyawa dalam berbagai masakan tradisional Melayu.

Salah satu cara paling populer dan unik untuk menikmati hasil fermentasi ini adalah menjadikannya bahan dasar kuah kari, terutama kari ayam tempoyak.

Jika biasanya kari menggunakan santan kental sebagai sumber gurihnya, penggunaan tempoyak memberikan tekstur kental sekaligus rasa asam segar yang menyeimbangkan lemak dari ayam.

Dalam masakan khas Jambi, tempoyak ditumis bersama bumbu halus yang terdiri dari kunyit, cabai, dan serai. 

Baca juga: Pengembangan Wisata Candi Muaro Jambi Angkat Kuliner Tradisional

Aroma durian yang terkaramelisasi saat ditumis memberikan harum yang sangat khas dan membangkitkan nafsu makan. 

Rasa asam alaminya bertindak sebagai pengganti asam jawa atau asam kandis, memberikan kesegaran yang bikin ketagihan.

Menurut catatan kuliner FiberCreme, tempoyak dianggap sebagai bahan makanan yang "appetizing" atau penambah nafsu makan. 

Selain dijadikan kuah kari atau gulai ikan patin, tempoyak juga sering diolah menjadi sambal tumis dengan tambahan teri atau petai.

Bagi para pencinta durian, tempoyak adalah cara baru menikmati buah favorit mereka dalam versi savory (gurih).

Sedangkan bagi mereka yang mungkin kurang suka durian segar, tempoyak sering kali lebih bisa diterima karena aroma tajam duriannya sudah berkurang dan berubah menjadi aroma fermentasi yang lebih kompleks.

Baca juga: Apa Itu Nasi Minyak, Nasi Berempah Khas Jambi?

Jika kamu baru pertama kali mencoba, pastikan tempoyak yang digunakan sudah matang sempurna (minimal tiga hari fermentasi). 

Tempoyak yang terlalu lama (lebih dari seminggu) biasanya akan terasa sangat asam, sehingga penggunaannya dalam kari ayam harus diseimbangkan dengan sedikit gula atau tambahan santan encer agar rasanya lebih smooth.

Baca juga: Pempek Asli Jambi di Jakarta Dijual Online, Tersedia Kemasan Beku dan Siap Santap

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Foodplace (@my.foodplace)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau