Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Salah Sangka, Fosil Utuh di Es Ini Bukan Anak Anjing, Usianya 14.000 Tahun

Kompas.com, 12 Agustus 2025, 14:33 WIB
Aditya Jaya Iswara

Penulis

Sumber CNN

TUMAT, KOMPAS.com - Fosil yang dikira dua anak anjing berusia ribuan tahun terawetkan sempurna di Siberia Utara, Rusia, ternyata bukan anak anjing. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keduanya kemungkinan besar adalah serigala liar.

Kedua hewan ini dijuluki “Anak Anjing Tumat” karena ditemukan di wilayah Tumat. Fosilnya masih memiliki bulu lengkap dan organ dalam yang terjaga berkat pembekuan alami di lapisan es.

Analisis isi perut mereka mengungkapkan makanan terakhir yang dimakan, termasuk daging badak berbulu dan bulu burung kecil jenis wagtail.

Baca juga: Fosil Manusia Purba di Selat Madura: Bukti Kehidupan Benua yang Tenggelam

Sebelumnya, temuan ini dikaitkan dengan anjing yang hidup berdampingan dengan manusia purba.

Hal itu didasarkan pada lokasi penemuan yang berdekatan dengan tulang mamut berbulu yang tampak dibakar dan dipotong oleh manusia.

Namun, studi baru yang diterbitkan di Quaternary Research mengungkap bahwa tidak ada bukti interaksi langsung dengan manusia.

Hasil analisis genetik dan kimia

Ilustrasi serigala liar.SHUTTERSTOCK Ilustrasi serigala liar.
Para peneliti menganalisis DNA isi perut, tulang, gigi, hingga jaringan lunak kedua hewan tersebut.

Hasilnya menunjukkan bahwa mereka adalah anak serigala berusia sekitar dua bulan. Tidak ditemukan tanda-tanda serangan atau luka, sehingga peneliti menduga keduanya mati mendadak ketika sarang bawah tanah mereka roboh akibat longsor lebih dari 14.000 tahun lalu.

“Sungguh luar biasa menemukan dua betina bersaudara dari era ini yang terawetkan dengan sangat baik. Yang lebih luar biasa, kini kita dapat mengetahui kisah hidup mereka, bahkan makanan terakhir yang mereka santap,” kata penulis utama studi, Anne Kathrine Wiborg Runge, mantan mahasiswa doktoral di Universitas York dan Universitas Kopenhagen, dikutip dari CNN.

Baca juga: Fosil Dinosaurus Usia 150 Juta Tahun Laku Rp 100 Miliar di Paris

Jejak makanan terakhir

Anak serigala pertama ditemukan pada 2011, sedangkan yang kedua ditemukan pada 2015, berjarak sekitar 40 kilometer dari desa Tumat. Usia keduanya diperkirakan antara 14.046 hingga 14.965 tahun.

Runge menjelaskan, seperti serigala modern, keduanya memakan daging dan tumbuhan. Potongan kulit badak berbulu yang ditemukan di perut salah satu anak serigala menunjukkan pola makan khas karnivora.

Kulit tersebut hanya tercerna sebagian, menandakan mereka mati tak lama setelah makan.

Berdasarkan warna bulu, peneliti memperkirakan badak berbulu yang dimakan merupakan anak badak, yang biasanya memiliki bulu pirang lebih terang dibanding individu dewasa.

“Perburuan hewan sebesar badak berbulu, bahkan yang masih bayi, menunjukkan bahwa serigala-serigala ini mungkin lebih besar daripada serigala masa kini,” kata rekan penulis studi, Dr Nathan Wales dari Universitas York.

Analisis sisa tumbuhan di perut anak badak berbulu yang mereka makan mengindikasikan habitat yang kering dan sejuk, dengan vegetasi seperti padang rumput, pohon willow, dan semak.

Halaman:

Terkini Lainnya
Krisis Minyak Dunia Juga Pernah Terjadi 1970-an, Lebih Parah Mana Dibanding Sekarang?
Krisis Minyak Dunia Juga Pernah Terjadi 1970-an, Lebih Parah Mana Dibanding Sekarang?
Internasional
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Internasional
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Peneliti Salah Sangka, Fosil Utuh di Es Ini Bukan Anak Anjing, Usianya 14.000 Tahun
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat