Editor
Penulis: Youhanna Najdi/DW Indonesia
TEHERAN, KOMPAS.com - Mojtaba Khamenei, lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, adalah putra kedua Ali Khamenei, mantan pemimpin tertinggi Iran yang tewas dalam serangan Israel pada 28 Februari.
Pada Minggu (8/3/2026), Majelis Ahli yang beranggotakan 88 orang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran. Penunjukkan ini sekitar satu pekan setelah perang besar pecah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Mojtaba sering digambarkan sebagai sosok misterius, tapi sangat berpengaruh di lingkar kekuasaan Iran. Ia dikenal memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), pasukan elite yang oleh banyak analis dianggap sebagai aktor paling kuat dalam sistem politik dan keamanan negara tersebut.
Baca juga: Resmi, Ayatollah Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Majelis Ahli Iran menyerukan kepada rakyat Iran untuk mendukung pemimpin baru tersebut dan "tetap menjaga persatuan nasional.”
Namun, Mojtaba dipandang sebagai kelanjutan langsung dari garis politik keras yang selama ini dijalankan ayahnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa penunjukan putra Khamenei sebagai pemimpin tertinggi "tidak dapat diterima.”
Ia juga memperingatkan bahwa pemimpin baru Iran itu kemungkinan tidak akan "bertahan lama” jika penunjukan tersebut tidak dikoordinasikan dengan Washington.
"Mereka membuang waktu. Putra Khamenei bukan figur yang kuat,” kata Trump, seperti dikutip media Amerika Axios.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel pekan lalu juga menyatakan bahwa siapa pun yang dipilih sebagai penerus Ali Khamenei akan menjadi "target untuk dieliminasi.”
Baca juga: Siapa Ayatollah Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran?
Mojtaba Khamenei, anak dari Ayatollah Ali Khamenei, saat ayahnya masih menjabat Pemimpin Tertinggi Iran pada 30 Oktober 2024 di Teheran.Meski ulama Syiah berusia 56 tahun itu selama ini jarang muncul di hadapan publik dan tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan, ia dikenal memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Iran yang kompleks, terutama di tubuh IRGC.
Para pejabat pemerintah mulai menyadari meningkatnya pengaruh Mojtaba dalam politik pada pertengahan 1990-an.
Saat itu ia kerap terlihat berada di sekitar para komandan dan pejuang IRGC yang baru kembali dari perang Iran-Irak (1980-1988).
Nama Mojtaba Khamenei semakin menjadi sorotan pada pemilihan presiden 2005, yang menurut sejumlah pengamat tidak lepas dari peran di balik layar yang ia mainkan.
Pemimpin tertinggi baru Iran itu disebut membantu sosok yang saat itu relatif tidak dikenal dari kalangan IRGC, Mahmoud Ahmadinejad, untuk memenangkan pemilihan.
Baca juga: Benarkah Eks Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Tewas dalam Serangan AS-Israel?