Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Prajuritnya Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Pertemuan Dewan Keamanan PBB

Kompas.com, 31 Maret 2026, 14:53 WIB
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Indonesia menyerukan pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) usai tiga prajurit penjaga perdamaiannya gugur di Lebanon.

Mereka juga mendesak pihak-pihak yang bertikai di Timur Tengah untuk menghormati hukum humaniter internasional.

"Keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rico Ricardo Sirait dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP.

"Semua pihak yang terlibat dalam konflik didesak untuk menghormati hukum humaniter internasional dan memastikan keamanan personel penjaga perdamaian," sambungnya.

Baca juga: Pasokan Energi Asia Terancam Konflik Timur Tengah, Jepang Berpaling ke Indonesia

Indonesia kecam serangan terhadap pasukan UNIFIL

Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mengatakan, dua personelnya gugur pada Senin (30/3/2026) dalam sebuah ledakan dan satu lagi gugur pada Minggu (29/3/2026) malam ketika sebuah proyektil menghantam posisi mereka.

Pasukan PBB mengatakan telah meluncurkan penyelidikan atas insiden-insiden terpisah tersebut.

Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono pun mengecam serangan itu.

Ia mengaku telah membahas insiden tersebut dengan Sekjen PBB Antonio Guterres dan meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, serta investigasi yang cepat, menyeluruh, dan transparan.

"Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar dan harus dijunjung tinggi setiap saat," tegas Sugiono.

Baca juga: AS Mengeluh: Sering Bantu Sekutu Perang, tapi Tak Dibantu Lawan Iran

Sementara itu, Wakil Sekjen PBB untuk operasi perdamaian, Jean-Pierre Lacroix turut mengecam insiden-insiden itu.

Menurutnya, semua tindakan yang membahayakan pasukan penjaga perdamaian harus dihentikan.

Perancis, anggota tetap Dewan Keamanan, mengatakan bahwa pihaknya sedang berupaya untuk mengadakan pertemuan badan tersebut terkait masalah ini.

Sebelumnya, media pemerintah NNA melaporkan, sebuah proyektil menghantam batalion Indonesia yang bertugas di UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr.

Kota Adchit al Qusayr terletak di dekat perbatasan selatan Lebanon dengan Israel, tempat pasukan Israel telah bertempur melawan Hizbullah selama hampir sebulan.

Baca juga: Dampak Perang Iran, Sopir Mobil Jenazah Thailand Tunjukkan Mayat demi Beli Solar

Perang di Timur Tengah menyebar ke Lebanon pada awal Maret setelah Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke Israel.

Serangan mereka terjadi setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari pertama serangan gabungan AS-Israel.

Israel telah membalas dengan serangan udara skala besar di Lebanon dan pasukan Israel kini maju ke sejumlah kota di Lebanon selatan.

Para pejabat Israel mengatakan, mereka bermaksud untuk mendirikan zona keamanan yang membentang sejauh 30 kilometer dari perbatasan Israel untuk melindungi warga yang tinggal di Israel utara.

Sementara, UNIFIL melaporkan, posisi mereka telah dihantam lebih dari sekali sejak dimulainya pertempuran terbaru.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
3 Prajuritnya Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Pertemuan Dewan Keamanan PBB
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat