Penulis
KOMPAS.com - Indonesia menyerukan pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) usai tiga prajurit penjaga perdamaiannya gugur di Lebanon.
Mereka juga mendesak pihak-pihak yang bertikai di Timur Tengah untuk menghormati hukum humaniter internasional.
"Keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rico Ricardo Sirait dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP.
"Semua pihak yang terlibat dalam konflik didesak untuk menghormati hukum humaniter internasional dan memastikan keamanan personel penjaga perdamaian," sambungnya.
Baca juga: Pasokan Energi Asia Terancam Konflik Timur Tengah, Jepang Berpaling ke Indonesia
Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mengatakan, dua personelnya gugur pada Senin (30/3/2026) dalam sebuah ledakan dan satu lagi gugur pada Minggu (29/3/2026) malam ketika sebuah proyektil menghantam posisi mereka.
Pasukan PBB mengatakan telah meluncurkan penyelidikan atas insiden-insiden terpisah tersebut.
Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono pun mengecam serangan itu.
Ia mengaku telah membahas insiden tersebut dengan Sekjen PBB Antonio Guterres dan meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, serta investigasi yang cepat, menyeluruh, dan transparan.
"Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar dan harus dijunjung tinggi setiap saat," tegas Sugiono.
Baca juga: AS Mengeluh: Sering Bantu Sekutu Perang, tapi Tak Dibantu Lawan Iran
Sementara itu, Wakil Sekjen PBB untuk operasi perdamaian, Jean-Pierre Lacroix turut mengecam insiden-insiden itu.
Menurutnya, semua tindakan yang membahayakan pasukan penjaga perdamaian harus dihentikan.
Perancis, anggota tetap Dewan Keamanan, mengatakan bahwa pihaknya sedang berupaya untuk mengadakan pertemuan badan tersebut terkait masalah ini.
Sebelumnya, media pemerintah NNA melaporkan, sebuah proyektil menghantam batalion Indonesia yang bertugas di UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr.
Kota Adchit al Qusayr terletak di dekat perbatasan selatan Lebanon dengan Israel, tempat pasukan Israel telah bertempur melawan Hizbullah selama hampir sebulan.
Baca juga: Dampak Perang Iran, Sopir Mobil Jenazah Thailand Tunjukkan Mayat demi Beli Solar
Perang di Timur Tengah menyebar ke Lebanon pada awal Maret setelah Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke Israel.
Serangan mereka terjadi setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari pertama serangan gabungan AS-Israel.
Israel telah membalas dengan serangan udara skala besar di Lebanon dan pasukan Israel kini maju ke sejumlah kota di Lebanon selatan.
Para pejabat Israel mengatakan, mereka bermaksud untuk mendirikan zona keamanan yang membentang sejauh 30 kilometer dari perbatasan Israel untuk melindungi warga yang tinggal di Israel utara.
Sementara, UNIFIL melaporkan, posisi mereka telah dihantam lebih dari sekali sejak dimulainya pertempuran terbaru.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang