Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perang Iran, Sopir Mobil Jenazah Thailand Tunjukkan Mayat demi Beli Solar

Kompas.com, 31 Maret 2026, 12:31 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Sumber AFP

CHONBURI, KOMPAS.com - Sebuah insiden tidak biasa terjadi di Thailand di tengah krisis bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik Timur Tengah.

Preecha Ngernkasem, seorang petugas kuil yang bertugas mengurus kremasi, terpaksa menunjukkan jenazah di dalam kendaraannya kepada petugas stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) demi mendapatkan solar.

Aksi nekat ini dilakukan Preecha setelah permintaannya untuk mengisi jeriken ditolak oleh petugas SPBU.

Baca juga: Thailand Mulai Terdampak Perang Iran, Antrean SPBU Mengular

Saat itu, dia sedang dalam perjalanan membawa jenazah seorang tunawisma tak dikenal dari sebuah rumah sakit di Provinsi Chonburi untuk dikremasi secara Buddha.

Dalam sebuah video yang disiarkan langsung melalui Facebook, Preecha terlihat turun dari mobil jenazah dan menghampiri petugas SPBU yang enggan melayaninya. 

Dia kemudian membuka pintu belakang mobil dan mengangkat tutup peti mati agar petugas yang tertegun itu bisa melihat mayat di dalamnya.

"Anda menolak menjual bahan bakar kepada saya, jadi saya harus menunjukkan alasan mengapa saya membutuhkannya," ujar Preecha dalam video tersebut.

Baca juga: Krisis Energi, Vietnam dan Thailand Minta PNS Kerja dari Rumah

Melihat pemandangan tersebut, petugas SPBU sempat tertawa canggung sebelum rekan sejawatnya turun tangan. 

Akhirnya, manajer SPBU bersedia untuk menjual BBM ke Preecha, sebagaimana dilansir AFP

Preecha membutuhkan tiga jeriken masing-masing berkapasitas 18 liter diesel untuk proses satu kali pembakaran jenazah.

Kepada AFP pada Senin (30/3/2026), Preecha mengonfirmasi bahwa jenazah tersebut telah dikremasi dengan layak pada Sabtu sore (28/3/2026). 

Baca juga: PM Anutin Umumkan Kabinet Baru Thailand, Apa Bedanya dengan Kabinet Lama?

Dia mengaku sangat menyesalkan situasi yang mengharuskannya melakukan tindakan ekstrem tersebut.

"Saya belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, dan saya tidak pernah menyangka akan melakukannya," ungkapnya. 

Dia pun menyarankan agar pihak SPBU bersedia menjual bahan bakar jika pembeli menunjukkan surat keterangan kematian dari rumah sakit.

Baca juga: Nasib 23 ABK Thailand yang Diserang di Selat Hormuz, 3 Awak Terjebak

Dampak konflik Timur Tengah

Kelangkaan bahan bakar di Thailand merupakan imbas dari gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah yang masih berkecamuk sampai sekarang. 

Halaman:


Terkini Lainnya
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau