Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Media Asing Soroti Pemangkasan Anggaran MBG Indonesia di Tengah Perang Iran

Kompas.com, 31 Maret 2026, 11:22 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com – Langkah pemerintah Indonesia memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Minggu (29/3/2026) menjadi perhatian luas media internasional.

Kebijakan ini dinilai sebagai respons awal terhadap lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah, termasuk perang Iran.

Sejumlah media asing menyoroti bagaimana program unggulan Presiden Prabowo Subianto mulai disesuaikan di tengah tekanan fiskal.

Baca juga: Di AS, Prabowo Bicara soal MBG hingga Undang Investor ke Indonesia

South China Morning Post mengulas langkah penghematan Indonesia

Harian South China Morning Post dalam laporan berjudul “Indonesia slashes free meals budget to save US$2.3 billion as fuel prices soar” menyoroti pemangkasan sebagai langkah penghematan besar pertama pemerintah Indonesia.

Media ini melaporkan bahwa pemerintah menargetkan penghematan hingga Rp 40 triliun dengan mengurangi distribusi makanan gratis dari enam hari menjadi lima hari per minggu mulai 31 Maret.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan, kebijakan ini diambil untuk meredam dampak ekonomi dari perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak global naik tajam.

Ia menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya melindungi ekonomi Indonesia dari gejolak eksternal.

Namun, pemerintah tetap memberikan pengecualian bagi daerah terpencil dan wilayah dengan tingkat stunting tinggi.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan, “Pemberian makanan bergizi gratis pada Sabtu untuk wilayah dengan risiko stunting tinggi adalah langkah strategis untuk memastikan anak-anak menerima nutrisi yang cukup setiap hari.”

SCMP juga menyoroti bahwa program ini sebelumnya sempat dikritik akibat kasus keracunan makanan, menambah tekanan terhadap keberlanjutan kebijakan tersebut.

AFP soroti tekanan fiskal

Kantor berita AFP dalam artikel analisis “Indonesia trims meals programme: what next?” memberikan sorotan yang lebih luas dengan melihat pemangkasan ini sebagai indikator tekanan fiskal yang mulai terasa.

Baca juga: Prabowo Banggakan MBG hingga Danantara di WEF Davos, Bicarakan Kinerjanya

AFP menekankan bahwa program MBG merupakan proyek andalan Presiden Prabowo yang mencakup sekitar 60 juta penerima dan menyerap hampir sepersepuluh anggaran negara. Pemangkasan menjadi lima hari dinilai signifikan, tetapi belum tentu cukup.

Peneliti politik dari BRIN, Firman Noor, mengatakan kepada AFP, “Ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap kekuatan keuangan kita akibat perang sudah mulai terasa.”

Ia menambahkan, “Ini adalah peringatan bahwa kita harus bersiap seperti negara lain. Dan sejujurnya, kita perlu penyesuaian karena kita tidak pernah tahu kapan perang akan berakhir, yang pasti akan mendorong harga minyak lebih tinggi.”

AFP juga menggarisbawahi dilema fiskal Indonesia, yang secara hukum harus menjaga defisit di bawah 3 persen PDB, sementara harga minyak global telah melampaui asumsi APBN.

Halaman:


Terkini Lainnya
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau