Editor
KOMPAS.com – Umat Islam kini telah memasuki hari kelima bulan Syawal 1447 Hijriah yang bertepatan dengan Rabu (25/3/2026). Selain merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh berpuasa Ramadhan, bulan Syawal juga menjadi momentum penting untuk menyempurnakan ibadah melalui berbagai amalan sunnah.
Salah satu amalan yang paling utama adalah puasa Syawal selama enam hari. Namun, bagi Anda yang masih memiliki tanggungan utang puasa Ramadhan, terdapat panduan khusus mengenai mana yang harus didahulukan.
Berikut adalah detail tata cara, bacaan niat, hingga daftar amalan di bulan Syawal 1447 H sebagaimana dirangkum Kompas.com.
Baca juga: Puasa Syawal 2026 Sampai Tanggal Berapa? Ini Jadwal Resmi Berdasarkan Kalender Kemenag
Bagi muslim yang memiliki utang puasa Ramadhan karena uzur (sakit, haid, atau perjalanan), disarankan untuk menuntaskan kewajiban tersebut (puasa qadha) terlebih dahulu sebelum menjalankan puasa sunnah Syawal.
Hal ini merujuk pada penjelasan Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab Lathoiful Ma’arif. Beliau menekankan bahwa menggugurkan kewajiban jauh lebih utama.
“Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal,” tulis Ibnu Rajab Al Hambali (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).
Berdasarkan kalender hijriah, Idul Fitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Dengan demikian, pelaksanaan puasa Syawal sudah bisa dimulai sejak 2 Syawal atau Minggu, 22 Maret 2026.
Waktu terbaik untuk melaksanakannya adalah secara berurutan pada tanggal 2-7 Syawal. Namun, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj menjelaskan bahwa puasa ini tidak wajib dilakukan berturut-turut.
Umat Islam diperbolehkan mencicil enam hari puasa tersebut selama masih berada di bulan Syawal, yang pada tahun ini berakhir pada Sabtu, 18 April 2026 (29 Syawal 1447 H).
Baca juga: Menikah di Bulan Syawal, Benarkah Sunnah Nabi? Ini Dalil Hadits Nabi
Berbeda dengan puasa wajib, niat puasa sunnah Syawal dapat dilafalkan pada malam hari maupun siang hari, selama seseorang belum makan atau minum sejak terbit fajar.
1. Niat di Malam Hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
(Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ)
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.”
2. Niat di Siang Hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
(Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ)
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT.”
Baca juga: Niat Puasa Syawal 2026: Arab, Latin, dan Artinya Lengkap
Selain puasa enam hari, terdapat berbagai amalan lain yang dianjurkan untuk mendulang pahala: