KILAS

Sejarah Penamaan Kota Makassar, dari Peristiwa Sakral hingga Sebutan Ujung Pandang

Kompas.com, 15 September 2025, 15:53 WIB
Tsabita Naja,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nama Makassar sudah disebutkan dalam pupuh 14/3 Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada abad ke-14 sebagai daerah taklukkan Kerajaan Majapahit.

Konon, asal-usul nama Makassar bermula dari sebuah peristiwa yang dianggap sakral.

Suatu pagi pada 1605 di tepi Pantai Tallo, Raja Tallo ke-VI kedatangan seorang lelaki berjubah putih dan bersorban hijau. Dari wajah hingga sekujur tubuhnya memancarkan cahaya terang.

Lelaki itu muncul mengadang di depan gerbang istana dan menjabat tangan sang raja. Digenggamnya tangan sang raja dan ia menuliskan sebuah tulisan di telapak tangannya yang dipercaya berisi sebuah syahadat.

Kemudian, lelaki itu memerintahkan sang raja untuk menunjukkan tulisan di telapak tangannya kepada seorang pria yang akan datang ke pantai, yaitu Abdul Ma'mur Khatib Tunggal, yang dikenal sebagai Dato'ri Bandang dari Kota Tengah, Minangkabau, Sumatera Barat.

Baca juga: Pendiri Mayapada Group Dato’ Sri Tahir: Filantropi Bukan Sekadar soal Angka...

Setelah memberi perintah, si lelaki tiba-tiba menghilang. Lelaki ini dipercaya sebagai Nabi Muhammad SAW yang turun ke negeri sang raja.

Adapun isi tulisan yang ada di telapak tangan sang raja adalah kalimat yang berbunyi, "Akkasaraki Nabiyya", yang artinya nabi menampakkan diri. 

Sementara itu, dari segi etimologi, sebutan Makassar berasal dari kata “Mangkasarak”, yang artinya mulia dan berterus terang atau jujur.

Orang-orang yang memiliki sifat "mangkasarak" berarti punya sifat mulia dan jujur, selaras antara perkataan dan hati nuraninya.

Hal tersebut sesuai dengan makna ungkapan Akkana Mangkasarak, yakni berkata terus terang meskipun pahit dengan penuh keberanian dan rasa tanggung jawab.

Baca juga: Tom Lembong: Bukan AI yang Menginspirasi Saya, tapi Keberanian Warga

Perubahan nama

Menurut catatan sejarah, cikal bakal lahirnya Kota Makassar berawal dari 1 April 1906.

Saat itu, pemerintah Hindia Belanda membentuk dewan pemerintahan Gemeente di Kampung Baru yang berada di Pantai Losari dan Benteng Fort Rotterdam. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi Kota Makassar. 

Nama Makassar sendiri sempat diganti menjadi Ujung Pandang di masa pemerintahan Orde Baru, tepatnya pada 31 Agustus 1971.

Sebelum ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar lebih dulu dikenal dengan sebutan Ujung Pandang pada era 1950-an.

Baca juga: Sejarah Kota Makassar, Dulunya Bernama Ujung Pandang

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 51 Tahun 1971 tanggal 1 September 1971, wilayah Kota Makassar berhasil diperluas dari 21 kilometer persegi (km²) menjadi 175 km².

Halaman:

Komentar
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau