Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mungkinkah Mewujudkan Konsep 'Forest City' yang 'Smart' di IKN Nusantara?

Kompas.com, 3 Desember 2023, 18:50 WIB
Masya Famely Ruhulessin

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com -Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) secara resmi mengumumkan salah satu konsep pembangunan yang akan diterapkan di Nusantara nanti adalah Kota Hutan yang Berkelanjutan atau Forest City.

Kepala OIKN, Bambang Susantono dalam acara "Nusantara, A City of Opportunities" di Singapura (17/2/2023) mengungkapkan bahwa Nusantara akan menjadi ibu kota negara yang pertama di dunia yang menerapkan konsep forest city.

“Hanya 25 persen dari area Nusantara yang akan dibangun. Sedangkan 75 persen sisanya akan menjadi area hijau, di mana termasuk 65 persen area tersebut tetap sebagai hutan tropis,” terang Bambang seperti dikutip dari situs resmi OIKN.

Baca juga: Baru Sebulan, Progres Hotel Nusantara di IKN Disebut Capai 35 Persen

Konsep ini tentu saja merupakan hal yang baru terutama bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan. Pasalnya, pada kota-kota modern seperti Jakarta dan Surabaya, sejauh mata memandang hanyalah hutan beton.

Dengan menerapkan konsep forest city, maka warga yang berdiam di Nusantara akan hidup berdampingan dengan alam. 

Keuntungan Menerapkan Konsep Pembangunan Forest City

Pemandangan hutan jika dilihat dari lokasi Titik Nol Nusantara, IKN, Selasa (3/10/2023).Kompas.com/ Suci Wulandari Putri Pemandangan hutan jika dilihat dari lokasi Titik Nol Nusantara, IKN, Selasa (3/10/2023).

Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna mengatakan banyak keuntungan yang bisa didapatkan ketika konsep forest city diterapkan di IKN Nusantara.

“Hal pertama yang didapatkan ketika menerapkan konsep ini adalah suhu kota menjadi lebih sejuk sehingga bisa membuat masyarakat yang tinggal juga tidak enggan untuk berjalan kaki di tengah kota,” ungkap Yayat saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (2/12/2023).

Selain itu, dari segi estetika, lingkungan kota akan terlihat lebih asri dan hijau sehingga orang yang beraktivitas di dalamnya merasa lebih nyaman. Bahkan tingkat stres masyarakat bisa berkurang.

Tak hanya itu, penerapan konsep forest city juga pastinya akan menambah keanekaragaman hayati di Nusantara.

Ribuan pohon Eucalyptus yang selama ini dijadikan sebagai tanaman industri itu bisa diganti dengan tanaman-tanaman asli Indonesia lainnya.

Baca juga: Rhenald Kasali Usulkan Pengadaan Kebun Binatang Endemik di IKN

Penerapan konsep Forest City juga selaras dengan target pemerintah yang ingin agar Nusantara bisa mencapai Net Zero pada tahun 2045.

Target ini menunjukan keseriusan Indonesia untuk terlibat mengurangi efek gas rumah kaca di dunia serta menjadikan Indonesia sebagai paru-paru dunia. 

Namun demikian, menurut Yayat, Pemerintah wajib membuat IKN Nusantara menjadi smart city di dalam forest city .

Artinya kota yang berwawasan alam namun semua sistem didalamnya sudah didukung dengan teknologi yang canggih.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau