Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jembatan Kretek 2, "Landmark" Jalur Pansela di Bantul

Kompas.com, 31 Maret 2024, 20:00 WIB
Muhdany Yusuf Laksono

Penulis

BANTUL, KOMPAS.com - Jalur Pantai Selatan (Pansela) Jawa seakan tak pernah berhenti membuat takjub. Seperti halnya Jalur Pansela di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tak hanya permukaan jalan yang mulus dengan pemandangan alam asri dan indah, Jalur Pansela di DIY juga memiliki landmark yang menyita perhatian kala melintasinya.

Landmark yang dimaksud ialah Jembatan Kretek 2 di Kabupaten Bantul. Diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2 Juni 2023.

Tim Merapah Trans-Jawa 2024 pun berkesempatan menyaksikan pesona Jembatan Kretek 2 ketika melakukan perjalanan menuju Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada Sabtu (30/03/2024).

Berdasarkan pantauan Kompas.com, Jembatan Kretek 2 memiliki empat jalur. Dua jalur utama serta dua jalur khusus untuk pejalan kaki.

Masing-masing jalur dipisahkan tiga pembatas jalan yang ditanami tumbuhan. Selain itu, terdapat pula ornamen burung kuntul pada railing jembatan.

Tak cukup di situ, bentuk tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) Jembatan Kretek 2 berupa tanaman padi berwarna hijau.

Baca juga: Proyek Jembatan Pandansimo, Calon Penghubung Jalur Pansela Bantul-Kulonprogo

Namun yang paling menarik, di tengah jembatan terdapat tugu menjulang tinggi berbentuk seperti alat bajak sawah. Tugu berwarna merah dan kuning keemasan itu juga dihiasi guratan-guratan garis kuning keemasan.

Jembatan Kretek 2 di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Dok. Tim Merapah Trans-Jawa 2024. Jembatan Kretek 2 di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Merujuk informasi dari Kementerian PUPR, konsep perencanaan desain Jembatan Kretek 2 secara garis besar memuat filosofi Among Tani Dagang Layar.

Adapun tugu berwarnah merah dan kuning keemasan di tengah jembatan merupakan wujud dari filosofi "Laku Urip Kang Utama” atau disingkat Luku, yang artinya “Selama Hidup Kita Melakukan Perbuatan Baik”. Hal itu menunjukkan budaya agraris masyarakat Yogyakarta.

Luku yang dipadukan dengan bentuk Pikulan memiliki makna kerja keras dan saling bekerja sama sebagai bagian dalam semangat pembangunan Yogyakarta.

Selain itu, Luku di Jembatan Kretek 2 juga mengambil filosofi Pamor Keris Toya Mambeg Sepuh atau Pamor Toya Ngembeng tentang genangan air sebagai sumber kehidupan yang bermakna rezeki yang terkumpul dan tidak mudah bocor atau habis.

Ornamen garis-garis Luku melambangkan aliran air yang mengalir, di mana posisi Jembatan Kretek 2 sebagai jalan yang melewati sungai tercermin dalam ornamen ini.

Jika dilihat dalam jenis pamor keris, ornamen seperti itu termasuk pamor toya mambeng, yang mana fIlosofi nya adalah harapan untuk rezeki yang lancar dan tidak mudah mengalir keluar.

Sementara untuk ornamen burung kuntul pada railing jembatan, terinspirasi dari burung kuntul yang berjasa membantu petani dalam membasmi hama di sawah.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau