Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siapa Saja Presiden yang Pernah Tinggal di Istana Merdeka?

Kompas.com, 17 Agustus 2025, 08:00 WIB
Aisyah Sekar Ayu Maharani,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025 akan kembali digelar di Istana Merdeka, Jakarta.

Sejak pertama kali digunakan pada 1950, halaman istana yang berada di jantung ibu kota ini selalu menjadi pusat peringatan kemerdekaan dengan pengibaran duplikat Bendera Pusaka.

Baca juga: Istana Élysée, Rumah Bangsawan Terindah Venue Makan Malam Privat Prabowo dan Macron

Selain sebagai lokasi upacara kenegaraan, Istana Merdeka juga menjadi kediaman resmi sejumlah Presiden Republik Indonesia.

Tidak semua kepala negara pernah menempatinya, namun istana bersejarah ini tetap menyimpan jejak kehidupan para pemimpin bangsa.

Lantas, siapa saja Presiden yang pernah tinggal di Istana Merdeka? Berikut rangkumannya, sebagaimana dilansir dari laman resmi Sekretariat Negara, Minggu (17/08/2025).

Soekarno, Presiden Pertama Tinggal di Istana Merdeka

Sehari setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, Presiden Soekarno beserta keluarga pindah dari Yogyakarta ke Jakarta dan menempati Istana Merdeka. Sejak itu, istana berfungsi sebagai rumah sekaligus kantor presiden.

Pada masa Soekarno, bagian timur istana digunakan sebagai kamar tidur keluarga, sementara sisi barat difungsikan untuk kegiatan resmi kenegaraan.

Kehidupan sehari-hari Bung Karno berlangsung di dalam kompleks istana, hingga akhirnya beliau digantikan oleh Presiden Soeharto pada 1967.

Baca juga: Progres 79 Persen, Renovasi Istana Kepresidenan Tampaksiring Tuntas September

Beda halnya dengan Presiden Soeharto. Meski menjabat selama 32 tahun, Soeharto tidak tinggal di Istana Merdeka. Ia memilih menetap di kediaman pribadinya di Jalan Cendana, Jakarta Pusat.

Sejak itu, Istana Merdeka lebih banyak digunakan sebagai kantor kepresidenan, lokasi acara resmi, serta resepsi kenegaraan.

Pada masa pemerintahannya, kamar tidur peninggalan Soekarno tidak lagi digunakan sebagai ruang pribadi, melainkan dialihfungsikan. Pada 1997, ruangan tersebut resmi menjadi tempat penyimpanan Bendera Pusaka dan naskah asli Proklamasi.

Gus Dur dan Jokowi Kembali Menetap di Istana

Tradisi tinggal di Istana Merdeka kembali berlangsung pada masa Presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Gus Dur memutuskan untuk menempati istana selama masa kepemimpinannya. Keputusan ini menghidupkan kembali fungsi awal Istana Merdeka sebagai kediaman resmi kepala negara.

Baca juga: Ruang Kredensi dan Konferensi Istana Garuda IKN Pakai Plafon Anti-rayap

Presiden Joko Widodo juga tercatat sempat tinggal di Istana Merdeka pada awal masa pemerintahannya.

Namun, kemudian Jokowi lebih sering menetap di Istana Bogor, meski aktivitas resmi kepresidenan tetap berlangsung di Istana Merdeka.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau