Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kampung Mrican Yogyakarta Diakui Dunia, Sabet Penghargaan Tertinggi Ammodo

Kompas.com, 17 November 2025, 15:40 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

AMSTERDAM, KOMPAS.com - Arsitektur yang bertanggung jawab secara sosial dan ekologis kini mendapat sorotan global.

Dalam edisi kedua Ammodo Architecture Award 2025 yang diumumkan di Amsterdam Kamis (13 November 2025), sebuah proyek dari Indonesia, Kampung Mrican Phase 1, berhasil meraih penghargaan tertinggi, yaitu Social Architecture Award, mengalahkan ratusan karya dari 60 lebih negara.

Baca juga: Fallingwater House, Rumah di Atas Air Terjun Ikon Arsitektur Dunia

Penghargaan ini menegaskan praktik arsitektur yang tidak memaksakan desain, melainkan mendengarkan kebutuhan komunitas, dapat menjadi solusi paling efektif dan inspiratif di tengah krisis global.

Akupunktur perkotaan di tepi Sungai Gajah Wong

Proyek Kampung Mrican Phase 1, hasil karya biro arsitek SHAU yang dimotori duet Florian Heinzelmann dan Daliana Suryawinata, mendapat apresiasi tinggi juri atas pendekatan urban acupuncture-nya.

Kampung Mrican adalah desa padat penduduk yang terbentang 1,2 kilometer di sepanjang Sungai Gajah Wong, Condong Catur, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dan berlokasi dekat UPN Veteran dan Universitas Amikom.

Sebelum intervensi, kawasan ini menghadapi masalah akut, sungai dan jalan dipenuhi sampah yang tidak terkelola.

Baca juga: Juara di Ajang Arsitektur Bergengsi Dunia, Palestina Inspirasi Perlawanan Budaya

Selain itu, kerap dilanda banjir dengan ketinggian air mencapai 2 meter, memperburuk kondisi hunian di tepi sungai, dan minimnya ruang publik yang layak dan fungsional.

Untuk mengatasi masalah fundamental ini, SHAU bekerja secara kolaboratif dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan warga lokal, menerapkan intervensi strategis berskala mikro hingga makro, dengan total area 30.000 meter persegi.

Negosiasi dengan warga pun dilakukan, termasuk memundurkan bangunan dari tepi sungai, pemasangan sheet piling untuk mencegah longsor, dan pembangunan jalan inspeksi 3 meter yang menyembunyikan sistem drainase dan saluran pembuangan.

Selain itu juga dilengkapi dengan pembangunan pusat pengelolaan sampah berbasis komunitas dan posko pengendali banjir.

Microlibrary

Salah satu fitur dari penataan ini adalah pembangunan microlibrary yang belakangan menjadi tengaran baru kawasan.

Dibangun di atas elevasi untuk menciptakan ruang publik teduh di bawahnya yang serbaguna. Bisa dimanfaatkan untuk hajatan, bazaar, atau parkir dengan memaksimalkan fungsi tanpa menambah luas bangunan.

Perbaikan pendopo (balai warga), pembangunan taman bermain di atas area pengolahan limbah dengan mengintegrasikan Wayang Gatotkaca, dan trotoar yang diukir dengan teks Jawa kuno berisi pesan ekologis juga diterapkan.

Baca juga: IAI: Jaga Kondusivitas Saat Demo, tanpa Korbankan Warisan Arsitektur

Proyek ini tidak menggusur atau membangun ulang, melainkan memperbaiki dan memperkuat apa yang sudah ada, dengan kata lain strengthening local initiatives.

Material yang digunakan adalah tanah liat (terakota) yang diproduksi lokal, menghasilkan fasad microlibrary dengan pola menyerupai batik.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau