Penulis
AMSTERDAM, KOMPAS.com - Arsitektur yang bertanggung jawab secara sosial dan ekologis kini mendapat sorotan global.
Dalam edisi kedua Ammodo Architecture Award 2025 yang diumumkan di Amsterdam Kamis (13 November 2025), sebuah proyek dari Indonesia, Kampung Mrican Phase 1, berhasil meraih penghargaan tertinggi, yaitu Social Architecture Award, mengalahkan ratusan karya dari 60 lebih negara.
Baca juga: Fallingwater House, Rumah di Atas Air Terjun Ikon Arsitektur Dunia
Penghargaan ini menegaskan praktik arsitektur yang tidak memaksakan desain, melainkan mendengarkan kebutuhan komunitas, dapat menjadi solusi paling efektif dan inspiratif di tengah krisis global.
Proyek Kampung Mrican Phase 1, hasil karya biro arsitek SHAU yang dimotori duet Florian Heinzelmann dan Daliana Suryawinata, mendapat apresiasi tinggi juri atas pendekatan urban acupuncture-nya.
Kampung Mrican adalah desa padat penduduk yang terbentang 1,2 kilometer di sepanjang Sungai Gajah Wong, Condong Catur, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dan berlokasi dekat UPN Veteran dan Universitas Amikom.
Sebelum intervensi, kawasan ini menghadapi masalah akut, sungai dan jalan dipenuhi sampah yang tidak terkelola.
Baca juga: Juara di Ajang Arsitektur Bergengsi Dunia, Palestina Inspirasi Perlawanan Budaya
Selain itu, kerap dilanda banjir dengan ketinggian air mencapai 2 meter, memperburuk kondisi hunian di tepi sungai, dan minimnya ruang publik yang layak dan fungsional.
Untuk mengatasi masalah fundamental ini, SHAU bekerja secara kolaboratif dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan warga lokal, menerapkan intervensi strategis berskala mikro hingga makro, dengan total area 30.000 meter persegi.
Negosiasi dengan warga pun dilakukan, termasuk memundurkan bangunan dari tepi sungai, pemasangan sheet piling untuk mencegah longsor, dan pembangunan jalan inspeksi 3 meter yang menyembunyikan sistem drainase dan saluran pembuangan.
Selain itu juga dilengkapi dengan pembangunan pusat pengelolaan sampah berbasis komunitas dan posko pengendali banjir.
Salah satu fitur dari penataan ini adalah pembangunan microlibrary yang belakangan menjadi tengaran baru kawasan.
Dibangun di atas elevasi untuk menciptakan ruang publik teduh di bawahnya yang serbaguna. Bisa dimanfaatkan untuk hajatan, bazaar, atau parkir dengan memaksimalkan fungsi tanpa menambah luas bangunan.
Perbaikan pendopo (balai warga), pembangunan taman bermain di atas area pengolahan limbah dengan mengintegrasikan Wayang Gatotkaca, dan trotoar yang diukir dengan teks Jawa kuno berisi pesan ekologis juga diterapkan.
Baca juga: IAI: Jaga Kondusivitas Saat Demo, tanpa Korbankan Warisan Arsitektur
Proyek ini tidak menggusur atau membangun ulang, melainkan memperbaiki dan memperkuat apa yang sudah ada, dengan kata lain strengthening local initiatives.
Material yang digunakan adalah tanah liat (terakota) yang diproduksi lokal, menghasilkan fasad microlibrary dengan pola menyerupai batik.