Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com – Konstelasi industri konstruksi Indonesia pada tahun 2026 menampilkan dinamika yang menarik.
Di satu sisi, raksasa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih memegang kendali atas proyek-proyek infrastruktur strategis nasional (PSN), namun di sisi lain, kontraktor swasta mulai menunjukkan taringnya melalui efisiensi operasional dan diversifikasi pasar di sektor industri serta properti kelas atas.
Baca juga: Top 10 Kontraktor Terbesar, Para Naga China Kuasai Dunia
Tahun 2026 menjadi tahun pembuktian bagi mereka. Setelah melewati fase restrukturisasi utang dan transformasi digital pascapandemi, angka-angka pada laporan keuangan berbicara lebih lugas mengenai siapa yang paling tangguh dalam menjaga margin di tengah fluktuasi harga material global.
Dalam catatan Kompas.com, secara volume proyek dan pendapatan, kuartet BUMN Karya masih sulit tergoyahkan.
Kehadiran proyek-proyek infrastruktur konektivitas, infrastruktur energi, infrastruktur air, infrastruktur pangan, Ibu Kota Nusantara (IKN), hilirisasi, dan kelanjutan Tol Trans-Sumatera menjadi motor utama penggerak revenue mereka.
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)
WIKA mencatatkan performa impresif dengan fokus pada proyek infrastruktur energi dan bangunan monumental.
Baca juga: Begini Profil Kontraktor Proyek Tertinggi Se-Jagat Raya Jeddah Tower
Tahun ini, WIKA diprediksi mengantongi pendapatan di kisaran Rp 25,5 triliun dengan laba bersih yang mulai stabil di angka Rp 450 Miliar.
Strategi WIKA yang selektif dalam memilih proyek dengan skema pembayaran bulanan terbukti memperkuat arus kas mereka.
PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT)
Pasca-restrukturisasi besar-besaran, Waskita kembali ke jalur pertumbuhan dengan fokus sebagai spesialis kontraktor jalan tol.
Pendapatan diproyeksikan menyentuh Rp 18,2 triliun. Meskipun laba bersih masih di angka Rp 120 Miliar, keberhasilan mereka menurunkan beban bunga menjadi sinyal positif bagi investor.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI)
Raja transportasi massal ini memanen hasil dari proyek LRT dan perkeretaapian nasional. ADHI mencatatkan pendapatan sekitar Rp 16,8 triliun dengan laba bersih yang cukup solid di angka Rp 210 Miliar, didorong oleh porsi proyek pemerintah yang memiliki profil risiko lebih rendah.
PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP)