Penulis
KOMPAS.com - Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso menceritakan awal mula mengelola sebuah klub dari tim kecil yang berada di pinggiran danau.
Dalam wawancaranya kepada Gazzetta dello Sport, Mirwan Suwarso menjelaskan bagaimana sebuah tim yang nyaris bangkrut, kini menjadi ancaman serius klub besar di Italia.
Perjalanan Como 1907 memang tak mudah mengingat mereka sempat terpuruk di Serie D sebelum akhirnya Djarum melalui SENT Entertainment membeli dengan harga 800 ribu euro, setara dengan Rp12,5 miliar.
Sejak diakuisisi Djarum, Como 1907 semakin berkembang dan menunjukkan perubahan pesat dengan melompati tiga level dalam kurun lima tahun.
Baca juga: Como Jadi Tim Paling Minim Mainkan Pemain Italia, Hanya Catatkan 1 Menit
Sempat menjadi juara Serie C pada 2021, Como 1907 akhirnya lolos di liga elite Italia, Serie A, setelah 21 tahun absen.
Pada musim ini, Como 1907 yang diasuh Cesc Fabregas menjelma menjadi tim raksasa dan bersaing di papan atas Serie A sekaligus berpeluang lolos ke Liga Champions.
"Kami masih dalam fase awal. Semua yang kami lakukan di Serie B tidak lagi berharga di Serie A. Setiap kali Anda berganti divisi, Anda harus mulai dari awal, dan kami sudah melakukannya tiga kali," kata Mirwan Suwarso dalam wawancaranya.
Baca juga: Cesc Fabregas, Kado dari Mourinho, dan Janji kepada Como
Sepak bola dan bisnis menjadi visi yang dibawa oleh Djarum dan Mirwan Suwarso kepada Como 1907.
Saat ditanya alasan membeli Como 1907 hanya untuk kebutuhan dokumenter, pebisnis asal Indonesia itu tak mengelak.
"Ya. Kami pernah membuat acara tentang tim nasional junior Indonesia, yang memiliki pangsa penonton yang sangat besar," kata Mirwan Suwarso.
Mirwan mengatakan jika awalnya Como 1907 dipakai untuk memperkenalkan sepak bola Italia kepada anak-anak di Indonesia.
Baca juga: Como Menjelma Raksasa Serie A, Fabregas Bongkar Rahasia Skuadnya
Namun, karena faktor tertentu, ia memutuskan untuk tidak melanjutkannya dan menggeser ke sisi bisnis dengan basis olahraga.
"Awalnya, idenya adalah untuk memperkenalkan anak-anak pada sepak bola Italia."
"Tetapi ketika Como promosi ke Serie C, level teknis mereka menjadi tidak berkelanjutan, dan kami tidak dapat menutupi biayanya. Namun kami melihat potensi untuk bisnis olahraga," tambahnya.
Jean Butez (kanan) berselebrasi dengan Marc-Oliver Kempf di akhir pertandingan sepak bola Serie A Liga Italia antara Juventus vs Como di Stadion Allianz di Turin pada 21 Februari 2026. (Foto oleh Isabella BONOTTO / AFP)Bukan perkara mudah mengelola sebuah klub kecil di tengah keterbatasan. Mirwan pun pernah berada di situasi tersebut dan mulai mencari solusi dari masalah tersebut.