Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel
Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com
KOMPAS.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan indikasi masalah kesehatan mental pada ratusan ribu anak di Indonesia.
Temuan ini diperoleh setelah sekitar 7 juta anak mengikuti skrining kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada periode 2025–2026.
Data menunjukkan ada sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak menunjukkan gejala kecemasan (anxiety disorder).
Baca juga: Banyak Anak Indonesia Alami Gejala Cemas dan Depresi, Psikolog Jelaskan Penyebabnya
Sementara itu, sekitar 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak yang menjalani skrining menunjukkan gejala depresi (depression disorder).
Angka tersebut menjadi perhatian serius karena kesehatan mental anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan mereka.
Para orangtua pun perlu memahami berbagai tanda yang dapat muncul ketika anak mengalami kecemasan maupun depresi. Simak beberapa tanda yang perlu diwaspadai.
Psikolog anak dan remaja Gloria Siagian, M.Psi. mengatakan, perubahan perilaku dan emosi yang ekstrem bisa menjadi salah satu tanda awal anak mengalami gangguan kecemasan atau depresi.
“Kalau misalnya ada perubahan perilaku, perubahan emosi gitu yang ekstrem. Misalnya anak yang ceria jadi tertutup, anak jadi suka marah, menutup diri,” tuturnya saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (13/3/2026).
Perubahan ini biasanya terlihat cukup jelas bagi orangtua maupun orang-orang di sekitar anak.
Anak yang sebelumnya aktif dan mudah bergaul dapat tiba-tiba menjadi lebih pendiam, menarik diri, atau menunjukkan emosi negatif secara berlebihan.
Kondisi ini perlu diperhatikan terutama jika perubahan tersebut berlangsung cukup lama dan tidak kembali seperti semula.
Baca juga: Ketahui 3 Ciri-ciri Gejala Depresi Menurut Psikiater, Termasuk Selalu Sedih
Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya perilaku yang dapat membahayakan atau melukai diri sendiri.
“Lalu, anak bisa melukai diri sendiri. Melukai diri sendiri itu bukan cuma sekedar self-harm, tapi tiba-tiba dia jadi diet ekstrem atau melakukan hal-hal yang ya melukai,” ujar Gloria.
Perilaku seperti ini sering kali menjadi bentuk ekspresi dari tekanan emosional yang sulit diungkapkan oleh anak.
Oleh karena itu, orangtua perlu lebih peka terhadap perubahan kebiasaan anak yang terlihat tidak biasa atau berisiko bagi kesehatannya.