SEMARANG, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau di Jawa Tengah akan mulai terjadi pada April 2026.
Berdasarkan data Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, pergeseran musim tahun ini cenderung maju atau lebih cepat dibandingkan pola normal di sejumlah daerah.
Baca juga: Kemarau di Sumsel Diprediksi Mulai Mei, Durasi Bisa Capai 5 Bulan
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menyampaikan, wilayah yang paling awal memasuki musim kemarau meliputi Kabupaten Rembang, Kepulauan Karimun Jawa, sebagian besar Pati dan Jepara, serta sebagian kecil Demak dan Blora.
“Awal musim kemarau paling awal terjadi pada bulan April,” kata Goeroeh dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/3/2026).
Sementara itu, daerah yang diperkirakan mengalami kemarau paling akhir adalah sebagian wilayah Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, serta sebagian kecil Brebes, Tegal, Pemalang, dan Kebumen pada pertengahan Juni 2026.
BMKG mencatat bahwa sifat hujan pada musim kemarau tahun ini umumnya berada di bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
“Untuk sifat hujannya umumnya bawah normal. Sedangkan untuk puncak musim umumnya terjadi di bulan Agustus 2026,” lanjut Goeroeh.
Kondisi iklim global saat ini terpantau masih berada pada fase netral dengan indeks ENSO sebesar -0.28. Namun, BMKG memberikan peringatan dini mengenai potensi perubahan kondisi iklim yang lebih ekstrem pada paruh kedua tahun ini.
“Terdapat peluang El Niño mulai awal Semester II tahun 2026,” ungkapnya.
Dari sisi durasi, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan akan berlangsung cukup panjang, yakni berkisar antara 5 hingga 6 bulan.
Baca juga: BMKG Sebut Siklon Tropis Narelle Menguat, Wilayah Ini Berpotensi Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi
Bahkan, di beberapa wilayah tertentu, durasi kemarau diprediksi bisa mencapai 8 hingga 9 bulan.
“Panjang periode musim kemarau tahun 2026 umumnya 16–18 dasarian (5–6 bulan), dengan durasi terpanjang 25–27 dasarian (8–9 bulan),” jelas Goeroeh.
Dibandingkan dengan data klimatologisnya, panjang musim kemarau tahun ini secara umum lebih lama 1 hingga 3 dasarian dari biasanya. Masyarakat pun diimbau untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama masa transisi atau pancaroba.
“Memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau diimbau kepada masyarakat untuk waspada potensi cuaca ekstrem, seperti petir, angin kencang, puting beliung, serta hujan lebat dengan waktu singkat yang berpotensi mengakibatkan bencana hidrometeorologi lainnya,” tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang