TABANAN, KOMPAS.com — Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, menggelar tradisi Nyepi Sawah selama dua hari, Minggu (29/3/2026) hingga Senin (30/3/2026).
Manajer Operasional Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih, I Ketut Purna, mengatakan, selama prosesi berlangsung, wisatawan tidak diperkenankan memasuki areal pematang sawah. Meskipun, selama prosesi nyepi tersebut kunjungan ke kawasan wisata tetap dibuka.
Pembatasan ini dilakukan untuk menjaga kekhusyukan ritual sekaligus menghormati kearifan lokal yang telah berlangsung turun-temurun.
“Wisatawan masih boleh berjalan di jalur trekking, karena kunjungan ke Jatiluwih cukup tinggi. Tapi untuk masuk ke pematang sawah tidak diperbolehkan,” ujar dia saat diwawancara Kompas.com, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Kisah Cinta Riski, Pria Asal Madura Menikahi WNA Polandia, Berawal di Bali hingga ke Pelaminan
Ia menjelaskan, tradisi ini serupa dengan Hari Raya Nyepi pada umumnya di Bali, namun pelaksanaannya difokuskan di area persawahan Jatiluwih.
Selama dua hari penuh, aktivitas di sawah dihentikan total, mulai pagi hingga sore hari tanpa aktivitas pertanian.
Para petani pun tidak beraktivitas di sawah, kecuali memberi makan ternak. Itupun dilakukan tanpa aktivitas lain setelahnya. Kegiatan pertanian sepenuhnya dihentikan demi menjaga ketenangan sawah.
Baca juga: Ngamuk Tak Diajak Mendaki, Pelaku Aniaya Sepupu Remaja di Buleleng Bali
Menurut Purna, tradisi Nyepi Sawah di Jatiluwih telah ada sejak lama, bahkan diperkirakan sudah berlangsung sejak 1933.
Prosesi Nyepi Sawah di Jatiluwih mencakup seluruh area persawahan seluas sekitar 227,41 hektare.
Ia menyampaikan, secara filosofi, ritual ini bertujuan memberikan waktu istirahat bagi tanaman padi, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.
Masyarakat percaya, dengan menghentikan aktivitas, berbagai hal negatif yang dapat merusak tanaman dapat dihilangkan.
“Seperti manusia juga butuh ketenangan, padi juga diperlakukan seperti itu. Harapannya, hal-hal yang merusak tanaman bisa pergi,” ujar Purna.
Ia menjelaskan, rangkaian ritual diawali dengan pengambilan air suci (tirta) di Pura Pekendungan yang berada di kawasan Tanah Lot.
Tirta tersebut kemudian dibawa ke Jatiluwih untuk dibagikan kepada petani dan disiramkan ke sawah masing-masing.
Dalam praktiknya, waktu pelaksanaan Nyepi Sawah tidak mengacu pada tanggal tetap, melainkan disesuaikan dengan kalender pertanian dan hari baik (dewasa ayu).
Umumnya, ritual dilakukan saat padi berumur satu bulan dan sekitar 2,5 bulan.
"Dalam satu tahun, Nyepi Sawah dapat dilakukan hingga lima kali, tergantung jenis padi dan siklus tanam. Setiap pelaksanaan berlangsung selama dua hari, sehingga total masa nyepi di sawah bisa mencapai sekitar 10 hari dalam setahun," jelas dia.
Tradisi ini menjadi bagian penting dari sistem subak yang juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Jatiluwih.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang