Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Momen Nyepi Sawah di Jatiluwih Bali: Petani Berhenti Beraktivitas, Wisatawan Dilarang Masuk Pematang

Kompas.com, 30 Maret 2026, 21:14 WIB
Ahmad Muzakky Alhasan,
Andi Hartik

Tim Redaksi

TABANAN, KOMPAS.com — Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, menggelar tradisi Nyepi Sawah selama dua hari, Minggu (29/3/2026) hingga Senin (30/3/2026).

Manajer Operasional Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih, I Ketut Purna, mengatakan, selama prosesi berlangsung, wisatawan tidak diperkenankan memasuki areal pematang sawah. Meskipun, selama prosesi nyepi tersebut kunjungan ke kawasan wisata tetap dibuka.

Pembatasan ini dilakukan untuk menjaga kekhusyukan ritual sekaligus menghormati kearifan lokal yang telah berlangsung turun-temurun.

“Wisatawan masih boleh berjalan di jalur trekking, karena kunjungan ke Jatiluwih cukup tinggi. Tapi untuk masuk ke pematang sawah tidak diperbolehkan,” ujar dia saat diwawancara Kompas.com, Senin (30/3/2026).

Baca juga: Kisah Cinta Riski, Pria Asal Madura Menikahi WNA Polandia, Berawal di Bali hingga ke Pelaminan

Ia menjelaskan, tradisi ini serupa dengan Hari Raya Nyepi pada umumnya di Bali, namun pelaksanaannya difokuskan di area persawahan Jatiluwih.

Selama dua hari penuh, aktivitas di sawah dihentikan total, mulai pagi hingga sore hari tanpa aktivitas pertanian.

Para petani pun tidak beraktivitas di sawah, kecuali memberi makan ternak. Itupun dilakukan tanpa aktivitas lain setelahnya. Kegiatan pertanian sepenuhnya dihentikan demi menjaga ketenangan sawah.

Baca juga: Ngamuk Tak Diajak Mendaki, Pelaku Aniaya Sepupu Remaja di Buleleng Bali

Menurut Purna, tradisi Nyepi Sawah di Jatiluwih telah ada sejak lama, bahkan diperkirakan sudah berlangsung sejak 1933.

Prosesi Nyepi Sawah di Jatiluwih mencakup seluruh area persawahan seluas sekitar 227,41 hektare.

Ia menyampaikan, secara filosofi, ritual ini bertujuan memberikan waktu istirahat bagi tanaman padi, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

Masyarakat percaya, dengan menghentikan aktivitas, berbagai hal negatif yang dapat merusak tanaman dapat dihilangkan.

“Seperti manusia juga butuh ketenangan, padi juga diperlakukan seperti itu. Harapannya, hal-hal yang merusak tanaman bisa pergi,” ujar Purna.

Ia menjelaskan, rangkaian ritual diawali dengan pengambilan air suci (tirta) di Pura Pekendungan yang berada di kawasan Tanah Lot.

Tirta tersebut kemudian dibawa ke Jatiluwih untuk dibagikan kepada petani dan disiramkan ke sawah masing-masing.

Dalam praktiknya, waktu pelaksanaan Nyepi Sawah tidak mengacu pada tanggal tetap, melainkan disesuaikan dengan kalender pertanian dan hari baik (dewasa ayu).

Umumnya, ritual dilakukan saat padi berumur satu bulan dan sekitar 2,5 bulan.

"Dalam satu tahun, Nyepi Sawah dapat dilakukan hingga lima kali, tergantung jenis padi dan siklus tanam. Setiap pelaksanaan berlangsung selama dua hari, sehingga total masa nyepi di sawah bisa mencapai sekitar 10 hari dalam setahun," jelas dia.

Tradisi ini menjadi bagian penting dari sistem subak yang juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Jatiluwih.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
Surabaya
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Surabaya
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Surabaya
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Surabaya
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Surabaya
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
Surabaya
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
Surabaya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau