Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rahasia Bangunan Romawi Tetap Utuh Selama Ribuan Tahun

Kompas.com, 9 Maret 2026, 19:11 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Hampir dua milenium setelah dibangun, sejumlah bangunan peninggalan Romawi masih berdiri kokoh hingga saat ini. Padahal, struktur tersebut telah melewati berbagai peristiwa besar, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga konflik militer.

Contoh paling terkenal adalah Colosseum dan Pantheon di Roma, Italia. Kedua bangunan ini tidak hanya megah, tetapi juga menjadi bukti keunggulan teknologi konstruksi bangsa Romawi.

Lantas, apa rahasia bangunan Romawi bisa bertahan selama ribuan tahun?

Colosseum merupakan salah satu bangunan paling ikonik dari masa Kekaisaran Romawi. Amfiteater raksasa ini dibuka pada tahun 80 Masehi dengan perayaan selama 100 hari berturut-turut yang diisi berbagai pertunjukan, termasuk pertempuran gladiator dan balap kereta kuda.

Bangunan yang juga dikenal sebagai Amfiteater Flavian ini mampu menampung lebih dari 50.000 penonton. Dengan tinggi empat lantai dan lebar sekitar 188 meter di bagian terlebarnya, Colosseum hingga kini masih tercatat sebagai amfiteater terbesar yang pernah dibangun.

Sekitar 40 tahun setelah Colosseum berdiri, bangsa Romawi membangun Pantheon yang tak kalah mengagumkan. Bangunan ini memiliki kubah raksasa dengan bentang sekitar 43 meter.

Baca juga: Orang Zaman Dahulu Bikin Bangunan Megah Tanpa Semen, Kok Bisa?

Di bagian puncaknya terdapat lubang bundar yang disebut oculus, yang berfungsi sebagai sumber cahaya alami bagi interior bangunan.

Nama Pantheon sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti "semua dewa". Bangunan ini diyakini memiliki fungsi keagamaan sekaligus simbol penghormatan kepada para kaisar Romawi.

Hingga saat ini, kubah Pantheon masih menjadi kubah beton tanpa tulangan terbesar di dunia.

Rahasia kokohnya bangunan Romawi

Melansir BBC, para peneliti menyebut ketahanan bangunan Romawi berasal dari kombinasi dua hal utama, yaitu desain rekayasa yang cerdas dan penggunaan beton dengan komposisi khusus.

Bangsa Romawi memang bukan pencipta beton pertama di dunia. Namun mereka berhasil menyempurnakan penggunaannya sehingga menjadi bahan konstruksi yang sangat kuat dan fleksibel.

Dengan teknik pengecoran beton, para arsitek Romawi mampu membuat berbagai bentuk struktur, seperti lengkungan, kubah, dan atap melengkung.

Baca juga: Sejarah Masjid Atta Awun, Masjid Paling Ikonik di Puncak Bogor

Desain ini tidak hanya estetis, tetapi juga membantu mendistribusikan beban bangunan secara lebih efektif.

Salah satu rahasia terbesar bangunan Romawi terletak pada campuran beton yang mereka gunakan.

Saat ini, sebagian besar beton modern dibuat menggunakan semen Portland yang terdiri dari campuran pasir silika, batu kapur, tanah liat, kapur, serta berbagai mineral lainnya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau