Penulis
KOMPAS.com - Menyusul serangan militer Amerika Serikat terhadap tiga situs nuklir utama Iran, parlemen Iran telah meneken persetujuan untuk menutup Selat Hormuz.
Tindakan Iran tutup Selat Hormuz menjadi balasan negara tersebut atas keterlibatan Amerika Serikat dalam perang Iran-Israel yang meletus sejak awal Juni 2025.
Sebelumnya, konflik Iran-Israel dipicu oleh serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran, sehingga menewaskan tokoh penting Garda Revolusi dan ilmuwan nuklir Iran.
Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran, dengan sebuah tonjolan serupa cula badak yang mengarah ke utara, sehingga hampir memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman.
Baca juga: Hubungan AS-Iran: Dinamika Sejak Masa Rezim Pahlavi hingga Khomeini
Dalam sejarahnya, Selat Hormuz sudah jadi jalur strategis sejak beberapa abad yang lalu. Selat Hormuz menghubungkan belahan Eropa dan Asia oleh orang-orang.
Saat penjelajahan bangsa Eropa dilakukan pada abad ke-13 hingga abad 16, Selat Hormuz jadi salah satu lalu lintas penting yang mereka lalui.
Marco Polo, penjelajah dari Italia, pernah melalui Selat Hormuz dan dua kali singgah di Pulau Hormuz, kubah garam yang tercakup dalam wilayah pesisir Iran.
Terakhir kali Marco Polo berlabuh di Pulau Hormuz sekitar tahun 1292 setelah kembali dari Cina. Setelah berlabuh di situ, ia melakukan perjalanan pulang ke Venesia via darat.
Pada abad ke-16, Alfonso de Albuquerque, pelaut Portugis, berlayar di Selat Hormuz dan merebut Pulau Hormuz pada tahun 1515. Ia juga mendirikan sebuah benteng di sana.
Benteng Portugis di Pulau Hormuz jadi strategi Albuqueque untuk mengamankan lalu lintas perdagangan laut dari Timur ke Portugis.
Untuk tujuan serupa pula, Albuquerque membangun benteng-benteng di Selat Malaka, Goa, dan pantai Afrika bagian selatan. Benteng Portugis di Pulau Hormuz jadi bukti betapa pentingnya Selat Hormuz bagi lalu lintas jalur laut sejak dulu.
Baca juga: Sejarah Hubungan Iran dan Israel: Menjadi Rival Sejak 1979
Kini, keberadaan Selat Hormuz sangat berarti bagi perekonomian dunia. Selat Hormuz jadi akses lalu lintas kapal-kapal tanker pengangkut minyak mentah untuk memenuhi konsumsi minyak global.
Selat Hormuz merupakan jalur yang mengarah keluar dari Teluk Persia. Kapal-kapal tanker pembawa minyak dari sejumlah pelabuhan di Teluk Persia dipastikan selalu melewati selat ini.
Selat Hormuz dikuasai oleh tiga negara, yaitu Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA). Iran menguasai pantai utara selat, sementara Oman dan UEA memiliki hak atas pantai selatan.
Panjang Selat Hormuz mencapai 180 kilometer. Lebar titik tersempit Selat Hormuz hanya 45 kilometer. Kondisi geografis dan letak Selat Hormuz ini sangat strategis bagi jalur pelayaran.