Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perang AS-Iran: Selat Hormuz, Jalur Penting Bersejarah

Kompas.com, 23 Juni 2025, 11:30 WIB
Ahmad Yasin

Penulis

KOMPAS.com - Menyusul serangan militer Amerika Serikat terhadap tiga situs nuklir utama Iran, parlemen Iran telah meneken persetujuan untuk menutup Selat Hormuz.

Tindakan Iran tutup Selat Hormuz menjadi balasan negara tersebut atas keterlibatan Amerika Serikat dalam perang Iran-Israel yang meletus sejak awal Juni 2025.

Sebelumnya, konflik Iran-Israel dipicu oleh serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran, sehingga menewaskan tokoh penting Garda Revolusi dan ilmuwan nuklir Iran.

Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran, dengan sebuah tonjolan serupa cula badak yang mengarah ke utara, sehingga hampir memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman.

Baca juga: Hubungan AS-Iran: Dinamika Sejak Masa Rezim Pahlavi hingga Khomeini

Jejak Marco Polo dan Alfonso de Albuquerque di Selat Hormuz

Dalam sejarahnya, Selat Hormuz sudah jadi jalur strategis sejak beberapa abad yang lalu. Selat Hormuz menghubungkan belahan Eropa dan Asia oleh orang-orang.

Saat penjelajahan bangsa Eropa dilakukan pada abad ke-13 hingga abad 16, Selat Hormuz jadi salah satu lalu lintas penting yang mereka lalui.

Marco Polo, penjelajah dari Italia, pernah melalui Selat Hormuz dan dua kali singgah di Pulau Hormuz, kubah garam yang tercakup dalam wilayah pesisir Iran.

Terakhir kali Marco Polo berlabuh di Pulau Hormuz sekitar tahun 1292 setelah kembali dari Cina. Setelah berlabuh di situ, ia melakukan perjalanan pulang ke Venesia via darat.

Pada abad ke-16, Alfonso de Albuquerque, pelaut Portugis, berlayar di Selat Hormuz dan merebut Pulau Hormuz pada tahun 1515. Ia juga mendirikan sebuah benteng di sana.

Benteng Portugis di Pulau Hormuz jadi strategi Albuqueque untuk mengamankan lalu lintas perdagangan laut dari Timur ke Portugis.

Untuk tujuan serupa pula, Albuquerque membangun benteng-benteng di Selat Malaka, Goa, dan pantai Afrika bagian selatan. Benteng Portugis di Pulau Hormuz jadi bukti betapa pentingnya Selat Hormuz bagi lalu lintas jalur laut sejak dulu.

Baca juga: Sejarah Hubungan Iran dan Israel: Menjadi Rival Sejak 1979

Posisi strategis Selat Hormuz saat ini

Kini, keberadaan Selat Hormuz sangat berarti bagi perekonomian dunia. Selat Hormuz jadi akses lalu lintas kapal-kapal tanker pengangkut minyak mentah untuk memenuhi konsumsi minyak global.

Selat Hormuz merupakan jalur yang mengarah keluar dari Teluk Persia. Kapal-kapal tanker pembawa minyak dari sejumlah pelabuhan di Teluk Persia dipastikan selalu melewati selat ini.

Selat Hormuz dikuasai oleh tiga negara, yaitu Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA). Iran menguasai pantai utara selat, sementara Oman dan UEA memiliki hak atas pantai selatan.

Panjang Selat Hormuz mencapai 180 kilometer. Lebar titik tersempit Selat Hormuz hanya 45 kilometer. Kondisi geografis dan letak Selat Hormuz ini sangat strategis bagi jalur pelayaran.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Stori
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Stori
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Stori
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Stori
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Stori
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Stori
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Stori
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Stori
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Stori
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Stori
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Stori
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Stori
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Stori
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Stori
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau