Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi

Kompas.com, 31 Maret 2026, 18:16 WIB
Serafica Gischa

Editor

KOMPAS.com - Harga batu bara sering naik tajam dalam periode tertentu, bahkan bisa melonjak berkali-kali lipat dalam waktu singkat.

Fenomena ini bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari perubahan panjang dalam sejarah energi, dinamika ekonomi global, hingga kebijakan pemerintah.

Sejak awal penggunaannya hingga era modern, batu bara selalu berada di persimpangan antara kebutuhan energi dan tekanan lingkungan.

Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah yang membuat harga batu bara bisa mahal?

Baca juga: Hari Kemerdekaan Energi Global Tanggal 10 Juli: Mengenang Nikola Tesla

Batu bara sejak awal menjadi tulang punggung energi dunia

Batu bara telah digunakan manusia sejak ribuan tahun lalu, bahkan sejak era sebelum Masehi di China, Yunani, hingga Inggris.

Penggunaannya meningkat drastis saat Revolusi Industri pada abad ke-18 dan 19, ketika batu bara menjadi bahan bakar utama mesin uap, industri baja, hingga transportasi kereta api.

Kebutuhan energi yang besar pada masa itu membuat batu bara menjadi komoditas strategis.

Dalam perkembangannya, batu bara tetap menjadi sumber energi utama, terutama untuk pembangkit listrik dan industri berat.

Hingga kini, batu bara masih menyumbang sekitar 27 persen energi global dan menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik di banyak negara.

Posisi penting ini membuat harga batu bara sangat sensitif terhadap perubahan kebutuhan energi dunia.

Lonjakan permintaan global menjadi awal harga batu bara mahal

Perubahan besar terjadi sekitar tahun 2000, ketika permintaan batu bara meningkat pesat dari negara berkembang seperti China dan India.

Permintaan tersebut terutama berasal dari sektor listrik dan industri, yang membutuhkan energi murah dan stabil.

Dalam periode 2000–2008, konsumsi batu bara global meningkat lebih dari 40 persen, dengan sebagian besar pertumbuhan berasal dari negara non-OECD.

Lonjakan permintaan ini menciptakan tekanan besar pada pasokan.

Ketika permintaan meningkat lebih cepat daripada produksi, harga batu bara mulai naik secara signifikan.

Kondisi ini menjadi salah satu titik awal mengapa batu bara bisa menjadi mahal di pasar global.

Baca juga: Penyebab Krisis Finansial Global 2008

Ketidakseimbangan supply dan demand memicu lonjakan harga

Faktor utama yang membuat harga batu bara mahal adalah ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Ketika produksi tidak mampu memenuhi kebutuhan industri dan listrik, harga akan terdorong naik.

Penelitian menunjukkan bahwa lonjakan harga ekstrem batu bara sangat dipengaruhi oleh ketidakseimbangan supply-demand akibat pertumbuhan ekonomi, transisi energi, dan konflik geopolitik.

Selain itu, penutupan tambang, pembatasan produksi, serta peningkatan biaya operasional juga ikut mengurangi pasokan.

Di sisi lain, permintaan tetap tinggi karena batu bara masih menjadi sumber energi utama di banyak negara.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Stori
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Stori
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Stori
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Stori
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Stori
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Stori
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Stori
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Stori
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Stori
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Stori
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Stori
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Stori
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Stori
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Stori
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau