KOMPAS.com – Gerhana matahari bukan sekadar fenomena astronomi, tetapi juga peristiwa yang sejak ribuan tahun lalu memengaruhi cara manusia memahami langit dan kehidupannya.
Catatan sejarah menunjukkan, gerhana matahari yang berhasil diprediksi secara ilmiah pertama kali terjadi pada 28 Mei 585 SM oleh filsuf Yunani Thales dari Miletos.
Peristiwa tersebut bahkan disebut menghentikan pertempuran antara bangsa Lydia dan Media karena kedua pihak menganggap langit yang tiba-tiba gelap sebagai pertanda ilahi.
Meski demikian, peradaban Babilonia dan Tiongkok telah lebih dahulu mencatat fenomena gerhana melalui pengamatan empiris, jauh sebelum metode ilmiah modern berkembang.
Dalam kajian astronomi modern, gerhana matahari terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu garis lurus pada fase bulan baru atau new moon.
Namun, tidak setiap fase bulan baru menghasilkan gerhana karena orbit Bulan miring sekitar lima derajat terhadap bidang edar Bumi mengelilingi Matahari.
Kemiringan inilah yang membuat peristiwa gerhana hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu.
Baca juga: Gerhana Bulan: Kisah Terlama, Tergelap, dan Mitos yang Menyertainya
Di Tiongkok kuno, astronomi merupakan bagian dari sistem pemerintahan.
Tugas para astronom bukan hanya mencatat pergerakan Matahari dan Bulan, tetapi juga menafsirkan maknanya bagi kaisar.
Salah satu kisah paling terkenal terjadi pada 22 Oktober 2137 SM, ketika dua astronom kerajaan bernama Ho dan Hi disebut gagal memprediksi gerhana.
Menurut catatan sejarah, kegagalan tersebut berujung hukuman mati karena dianggap mengabaikan tugas negara.
Kisah ini memperlihatkan betapa pentingnya gerhana dalam struktur politik dan kepercayaan masyarakat kuno.
Dalam tradisi keagamaan, gerhana juga kerap dihubungkan dengan peristiwa besar.
Beberapa peneliti mengaitkan deskripsi kegelapan dalam Kitab Kejadian dengan gerhana matahari yang diperkirakan terjadi pada 9 Mei 1533 SM saat Abraham berada di Kanaan.
Baca juga: Sejarah Gerhana Matahari Total 11 Juni 1983 di Indonesia
Memasuki abad pertengahan, gerhana masih dipandang sebagai pertanda luar biasa.