Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II

Kompas.com, 20 Maret 2026, 13:50 WIB
Serafica Gischa

Editor

KOMPAS.com – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sempat bercanda soal Pearl Harbor di depan Perdana Menteri Jepang membuat suasana Ruang Oval mendadak canggung dan kembali memicu perhatian publik terhadap peristiwa tersebut.

Di tengah ramainya perbincangan itu, sejarah Pearl Harbor kembali menjadi sorotan, terutama mengenai bagaimana serangan Jepang pada 7 Desember 1941 menjadi titik balik besar dalam Perang Dunia II.

Serangan ini tidak hanya mengguncang Amerika Serikat, tetapi juga mengubah peta kekuatan global dan mendorong AS terlibat langsung dalam konflik besar tersebut.

Memahami sejarah Pearl Harbor berarti menelusuri rangkaian peristiwa panjang yang berujung pada salah satu titik balik terbesar dalam sejarah dunia modern.

Baca juga: Serangan Jepang ke Pearl Harbor 1941: Momen yang Memicu AS Terlibat dalam Perang Dunia II

Ketegangan Jepang dan Amerika sebelum 1941

Latar belakang serangan Pearl Harbor tidak bisa dilepaskan dari hubungan tegang antara Jepang dan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Ekspansi militer Jepang di kawasan Asia Timur, terutama setelah invasi ke Manchuria pada 1931, memicu kekhawatiran Amerika terhadap ambisi imperialisme Jepang.

Amerika kemudian merespons dengan kebijakan politik dan ekonomi, termasuk penolakan terhadap legitimasi ekspansi Jepang melalui Doktrin Stimson pada 1932.

Meski demikian, kebijakan tersebut tidak sepenuhnya efektif karena Jepang tetap mampu memperluas wilayahnya, termasuk ke Asia Tenggara untuk memperoleh sumber daya strategis.

Ketegangan semakin meningkat ketika Jepang mulai merencanakan ekspansi lebih luas, termasuk potensi konflik langsung dengan Amerika Serikat.

Situasi ini menciptakan kondisi “jalan buntu” antara kedua negara, yang pada akhirnya mendorong Jepang memilih opsi militer sebagai langkah strategis.

Baca juga: Serangan Pertama Jepang Sebelum Menguasai Asia: Bombardir Pearl Harbor

Perencanaan serangan dan peran Isoroku Yamamoto

Serangan Pearl Harbor bukanlah tindakan spontan, melainkan hasil perencanaan militer yang sangat matang.

Tokoh utama di balik rencana ini adalah Laksamana Isoroku Yamamoto, yang menyadari bahwa Jepang harus melumpuhkan kekuatan utama Amerika di Pasifik sejak awal.

Strateginya sederhana namun berisiko tinggi, yaitu menghancurkan armada Pasifik Amerika agar tidak mampu menghalangi ekspansi Jepang di kawasan Asia dan Pasifik.

Yamamoto percaya bahwa serangan cepat dan mengejutkan akan memberi Jepang waktu untuk menguasai wilayah strategis tanpa gangguan besar dari Amerika.

Perencanaan ini melibatkan kekuatan besar, termasuk enam kapal induk, kapal perang cepat, kapal penjelajah, serta puluhan pesawat tempur dan pembom yang disiapkan khusus untuk misi tersebut.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Stori
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Stori
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Stori
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Stori
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Stori
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Stori
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Stori
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Stori
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Stori
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Stori
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Stori
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Stori
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Stori
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Stori
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau