Penulis
KOMPAS.com - Pertempuran Balikpapan yang berlangsung pada 1 hingga 21 Juli 1945 mengawali akhir dari pendudukan Jepang di Indonesia.
Pertempuran Balikpapan mempertemukan pasukan Sekutu yang dipimpin Australia dan tentara Jepang.
Peperangan ini terjadi di wilayah Kalimantan menjelang berakhirnya Perang Dunia II.
Aksi militer ini menjadi bagian rencana Sekutu untuk mengambil alih wilayah Kalimantan dari kendali Jepang.
Baca juga: Tragedi Jelang Kemerdekaan: Kisah Dr. Achmad Mochtar Jadi Kambing Hitam Jepang
Balikpapan menjadi incaran Jepang karena potensi minyak bumi serta letaknya yang strategis. Jepang menduduki kota Balikpapan sejak 1942 setelah menaklukkan pasukan Belanda.
Mereka menguasai kilang minyak, pelabuhan, serta lapangan udara, yang mendukung logistik militer di Asia Tenggara.
Sejak itu, Sekutu beberapa kali melancarkan serangan untuk mengganggu posisi Jepang, namun belum mampu mengusir mereka sepenuhnya.
Setelah tiga tahun serangan sporadis, Sekutu akhirnya meluncurkan operasi berskala penuh sebagai langkah akhir untuk mengakhiri dominasi Jepang di Kalimantan.
Serangan dimulai pada 1 Juli 1945. Sekutu mengerahkan sekitar 100 kapal dan 30.000 personel yang dipimpin Mayor Jenderal Edward Milford.
Mereka mendarat di pesisir Balikpapan dan menghadapi pertahanan Jepang yang dipimpin Laksamana Muda Michiaki Kamada.
Jepang memperkirakan memiliki sekitar 8.400 hingga 10.000 tentara di kawasan itu.
Baca juga: Rencana Jepang Beri Kemerdekaan Indonesia: Jawa Dijadwalkan September
Sekutu melancarkan Operasi Oboe sebagai bagian dari strategi militer di kawasan Pasifik.
Operasi ini dibagi dua, yaitu Oboe I di Tarakan dan Oboe II di Balikpapan. Oboe II merupakan aksi militer terakhir di medan Pasifik, berlangsung di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Pada pagi hari, 26 Juni 1945, sekitar 21.000 tentara Australia dari Divisi ke-7 bersiaga di kapal-kapal angkut sekitar 15 kilometer dari pantai Balikpapan.
Tepat pukul 08.00, armada laut Sekutu mendekat dengan formasi kipas dan mulai menggempur kota dari arah laut. Ledakan meriam mengguncang pesisir dan menimbulkan asap tebal yang menyelimuti Balikpapan.