Editor
KOMPAS.com - Rudal Sejjil Iran kembali menjadi sorotan global setelah namanya sering disebut dalam berbagai perkembangan konflik di Timur Tengah.
Senjata balistik jarak menengah ini dikenal sebagai salah satu teknologi misil paling canggih yang dimiliki Iran.
Namun di balik reputasinya saat ini, rudal Sejjil Iran lahir dari perjalanan panjang program rudal Teheran yang dimulai sejak perang Iran–Irak pada dekade 1980-an.
Sejarah pengembangannya menunjukkan bagaimana pengalaman perang, embargo senjata, dan strategi pertahanan regional mendorong Iran membangun kemampuan misilnya secara mandiri.
Baca juga: Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah program rudal Iran tidak bisa dilepaskan dari konflik Iran–Irak yang berlangsung antara 1980 hingga 1988.
Perang tersebut menjadi salah satu konflik paling brutal di Timur Tengah setelah Perang Dunia II, dengan kedua negara saling menyerang tidak hanya di medan tempur, tetapi juga ke wilayah perkotaan.
Pada masa itu, Iran dan Irak mulai menggunakan rudal balistik untuk menyerang kota-kota besar lawan, sebuah fase konflik yang dikenal sebagai “War of the Cities.”
Serangan rudal terhadap kawasan sipil membuat teknologi misil menjadi alat penting dalam strategi militer kedua negara.
Dokumen intelijen Amerika Serikat menyebutkan bahwa selama perang tersebut, baik Iran maupun Irak menembakkan rudal jarak menengah untuk menekan moral lawan dan memberikan efek psikologis terhadap penduduk sipil.
Serangan-serangan itu memperlihatkan bahwa rudal balistik mampu menjangkau target jauh di belakang garis pertempuran, sehingga memberikan keuntungan strategis bagi negara yang memilikinya.
Situasi tersebut mendorong Iran untuk memperkuat kemampuan misilnya sebagai alat pertahanan dan penangkal ancaman dari negara lain.
Baca juga: Kisah Iran Memproduksi Rudal Sendiri untuk Kepentingan Militer
Pada awal perang Iran–Irak, Iran sebenarnya belum memiliki industri rudal yang kuat.
Sebagian besar teknologi misil yang digunakan Teheran berasal dari luar negeri, terutama dari sistem rudal Scud buatan Soviet yang diperoleh melalui jaringan perdagangan senjata internasional.
Rudal-rudal tersebut menjadi salah satu alat utama Iran untuk membalas serangan Irak selama perang berlangsung.
Namun ketergantungan pada pasokan luar negeri membuat Iran menghadapi berbagai kendala, terutama karena embargo dan pembatasan perdagangan senjata yang diberlakukan terhadap negara tersebut.