Editor
KOMPAS.com – Hari Raya Nyepi dikenal sebagai perayaan tahun baru Saka yang identik dengan suasana hening tanpa aktivitas.
Kesunyian tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan hasil dari perjalanan sejarah panjang yang berakar dari perkembangan budaya dan agama Hindu di Nusantara.
Di balik pelaksanaannya, Nyepi menyimpan nilai spiritual, filosofi kehidupan, serta rangkaian upacara yang mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Memahami sejarah Hari Nyepi menjadi kunci untuk melihat bagaimana perayaan ini terbentuk dan terus bertahan sebagai bagian penting dari kehidupan umat Hindu hingga kini.
Baca juga: Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Sejarah Hari Nyepi tidak dapat dipisahkan dari penggunaan kalender Saka yang berasal dari India.
Penanggalan ini mulai dikenal sejak masa pemerintahan Raja Kaniska I, kemudian menyebar ke berbagai wilayah Asia termasuk Nusantara seiring masuknya pengaruh Hindu.
Masuknya kalender Saka membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama dalam sistem penanggalan, budaya tulis, serta perkembangan peradaban.
Berbagai kerajaan kuno seperti Kutai, Tarumanegara, hingga Sriwijaya menggunakan sistem ini dalam prasasti-prasasti yang mereka tinggalkan.
Penggunaan kalender Saka juga berkembang dalam bentuk candrasangkala, yaitu sistem penulisan tahun dengan simbol tertentu yang banyak ditemukan pada masa kerajaan Mataram Kuno.
Di Bali, penggunaan kalender Saka dapat dilihat melalui berbagai prasasti, salah satunya Prasasti Blanjong yang menunjukkan kuatnya pengaruh budaya Hindu dalam kehidupan masyarakat.
Seiring perkembangan waktu, kalender Saka tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga menjadi dasar dalam perayaan keagamaan.
Hari pertama dalam kalender tersebut kemudian diperingati sebagai Tahun Baru Saka yang dikenal sebagai Hari Raya Nyepi.
Meskipun bentuk perayaan awalnya tidak banyak terdokumentasi, sejumlah naskah kuno menunjukkan adanya ritual keagamaan yang berkaitan dengan pergantian tahun.
Di Bali, tradisi Nyepi berkembang dengan lebih sistematis melalui berbagai lontar seperti Sundarigama dan Swamandala.
Baca juga: Sejarah Ogoh-Ogoh dan Kaitannya dengan Hari Raya Nyepi
Dalam naskah tersebut dijelaskan bahwa perayaan Nyepi didahului oleh upacara Bhuta Yadnya atau Tawur Kesanga sebelum memasuki hari hening sebagai puncaknya.