Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka

Kompas.com, 18 Maret 2026, 13:50 WIB
Serafica Gischa

Editor

KOMPAS.com – Hari Raya Nyepi dikenal sebagai perayaan tahun baru Saka yang identik dengan suasana hening tanpa aktivitas.

Kesunyian tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan hasil dari perjalanan sejarah panjang yang berakar dari perkembangan budaya dan agama Hindu di Nusantara.

Di balik pelaksanaannya, Nyepi menyimpan nilai spiritual, filosofi kehidupan, serta rangkaian upacara yang mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Memahami sejarah Hari Nyepi menjadi kunci untuk melihat bagaimana perayaan ini terbentuk dan terus bertahan sebagai bagian penting dari kehidupan umat Hindu hingga kini.

Baca juga: Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi

Sejarah Hari Nyepi dan akar Tahun Baru Saka 

Sejarah Hari Nyepi tidak dapat dipisahkan dari penggunaan kalender Saka yang berasal dari India.

Penanggalan ini mulai dikenal sejak masa pemerintahan Raja Kaniska I, kemudian menyebar ke berbagai wilayah Asia termasuk Nusantara seiring masuknya pengaruh Hindu.

Masuknya kalender Saka membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama dalam sistem penanggalan, budaya tulis, serta perkembangan peradaban.

Berbagai kerajaan kuno seperti Kutai, Tarumanegara, hingga Sriwijaya menggunakan sistem ini dalam prasasti-prasasti yang mereka tinggalkan.

Penggunaan kalender Saka juga berkembang dalam bentuk candrasangkala, yaitu sistem penulisan tahun dengan simbol tertentu yang banyak ditemukan pada masa kerajaan Mataram Kuno.

Di Bali, penggunaan kalender Saka dapat dilihat melalui berbagai prasasti, salah satunya Prasasti Blanjong yang menunjukkan kuatnya pengaruh budaya Hindu dalam kehidupan masyarakat.

Seiring perkembangan waktu, kalender Saka tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga menjadi dasar dalam perayaan keagamaan.

Hari pertama dalam kalender tersebut kemudian diperingati sebagai Tahun Baru Saka yang dikenal sebagai Hari Raya Nyepi.

Meskipun bentuk perayaan awalnya tidak banyak terdokumentasi, sejumlah naskah kuno menunjukkan adanya ritual keagamaan yang berkaitan dengan pergantian tahun.

Di Bali, tradisi Nyepi berkembang dengan lebih sistematis melalui berbagai lontar seperti Sundarigama dan Swamandala.

Baca juga: Sejarah Ogoh-Ogoh dan Kaitannya dengan Hari Raya Nyepi

Dalam naskah tersebut dijelaskan bahwa perayaan Nyepi didahului oleh upacara Bhuta Yadnya atau Tawur Kesanga sebelum memasuki hari hening sebagai puncaknya.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Stori
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Stori
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Stori
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Stori
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Stori
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Stori
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Stori
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Stori
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Stori
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Stori
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Stori
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Stori
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Stori
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Stori
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau