Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rencana Jepang Beri Kemerdekaan Indonesia: Jawa Dijadwalkan September

Kompas.com, 25 Juli 2025, 18:00 WIB
Ahmad Yasin

Penulis

KOMPAS.com - Ketika kabar menyerahnya Jepang telah mulai tersiar di kalangan tokoh kemerdekaan Indonesia, Soekarno-Hatta kemudian melakukan proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia menandai akhir dari kekuasaan Jepang di tanah air. Namun, beberapa waktu sebelum proklamasi, Jepang diketahui telah menyusun rencana untuk memberi kemerdekaan kepada Indonesia.

Rencana Jepang memberi kemerdekaan untuk Indonesia mulai dibahas sekitar bulan Juli 1945. Jawa disebut akan memperoleh kemerdekaan lebih dulu.

Hanya saja, rencana tersebut urung terlaksana saat Jepang kian terdesak di Perang Dunia II usai dijatuhi bom atom.

Bagaimana kisah Jepang menyusun rencana untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia?

Baca juga: Perang Saipan 15 Juni-9 Juli 1944: Kekalahan Besar Jepang di PD II

Jepang mulai terpojok di Perang Dunia II

Upaya Jepang untuk menyusun rencana memberikan kemerdekaan kepada Indonesia bermula dari situasi yang mulai tak mendukung mereka di Perang Dunia II.

Saat itu, Jepang sudah dalam keadaan terpojok di Perang Dunia II. Rangkaian kekalahan dialami oleh Dai Nippon di berbagai front peperangan.

Beberapa pulau strategis Jepang telah jatuh di tangan Amerika Serikat. Sebut saja Pulau Saipan (jatuh 9 Juli 1944) dan Pulau Iwo Jima (jatuh pada 26 Maret 1945).

Memasuki pertengahan 1945, Jepang tampak sendirian di Perang Dunia II. Aliansi mereka di Blok Poros, Jerman dan Italia, telah menyerah kepada Sekutu.

Praktis, perhatian negara-negara Sekutu di Perang Dunia II hanya tersisa di Asia, khususnya Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Kondisi itu menyebabkan Jepang dalam keadaan terkepung di pengujung Perang Dunia II.

Baca juga: Blok Poros dalam Perang Dunia II

Jepang tersandera janji kemerdekaan

Setahun sebelumnya, Jepang telah tersandera oleh janji kemerdekaan kepada Indonesia. Perdana Menteri Jepang Kuniaku Koiso menyatakan hal itu pada 7 September 1944 di sidang istimewa Teikoku Henkai ke-85 di Tokyo.

Pernyataan ini dikenal sebagai Janji Koiso. Janji Koiso merupakan respon Jepang yang tahu bahwa rakyat dan tokoh pergerakan Indonesia amat menginginkan kemerdekaan.

Janji itu direalisasikan secara bertahap pada 1945. Salah satunya adalah dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 April 1945.

Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2010), Jepang sudah tak bisa lagi memikirkan kemenangan atau mempertahankan wilayah pendudukannya.

"Tujuannya di Indonesia kini adalah membentuk sebuah negara yang merdeka dalam rangka mencegah berkuasanya kembali Belanda, musuh mereka," tulis Ricklefs.

Baca juga: Wujud Janji Jepang kepada Bangsa Indonesia untuk Membantu Kemerdekaan

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Stori
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Stori
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Stori
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Stori
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Stori
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Stori
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Stori
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Stori
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Stori
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Stori
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Stori
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Stori
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Stori
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Stori
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau