Penulis
KOMPAS.com - Tanggal 31 Desember biasanya identik dengan penutupan kalender dan persiapan menyambut tahun baru.
Namun pada akhir 1991, tanggal itu juga menandai berakhirnya sebuah negara yang selama puluhan tahun menjadi salah satu poros utama politik dunia.
Uni Soviet resmi tidak lagi ada, menyisakan pertanyaan tentang bagaimana proses runtuhnya berlangsung dan peran aktor-aktor global di dalamnya.
Dokumen-dokumen yang kemudian dibuka menunjukkan bahwa Amerika Serikat, yang kerap dianggap berada di balik peristiwa itu, justru memilih mempertahankan pemerintahan pusat Uni Soviet hingga hari-hari terakhir.
Baca juga: Hari Kemerdekaan Kazakhstan 16 Desember: Sejarah Lepas dari Uni Soviet
Dilansir dari National Security Archive, bagi para pembuat kebijakan di Washington, pembubaran Uni Soviet bukan sekadar perubahan geopolitik.
Mereka memandangnya sebagai potensi kekacauan besar.
Pengalaman perang di Yugoslavia memperkuat kekhawatiran akan konflik berdarah, terlebih Uni Soviet memiliki persenjataan nuklir dalam jumlah besar yang tersebar di berbagai republik.
Pertimbangan inilah yang mendorong Amerika Serikat mengambil sikap hati-hati.
Alih-alih mendorong perpecahan, pemerintah AS berupaya menjaga stabilitas dan kesinambungan, meski dengan struktur negara yang melemah.
Baca juga: Deretan Konflik Masa Perang Dingin antara Kubu AS dan Uni Soviet
Presiden George H.W. Bush melihat Mikhail Gorbachev sebagai figur kunci dalam proses transisi damai.
Dalam berbagai pertemuan dan komunikasi, Bush menegaskan dukungan terhadap pemerintahan pusat dan terhadap Gorbachev secara pribadi.
Sikap ini bahkan menimbulkan perdebatan di dalam negeri Amerika.
Di tengah meningkatnya pengaruh Boris Yeltsin dan tuntutan reformasi cepat, Bush tetap memilih mendukung Gorbachev demi mencegah ketidakstabilan yang lebih luas.
Baca juga: Apa Itu KGB, Badan Intelijen Soviet Tempat Vladimir Putin Berkarier?
Kudeta gagal pada Agustus 1991 menjadi titik balik penting. Selama beberapa hari, Gorbachev terisolasi dan kewibawaan pusat kekuasaan melemah.
Sementara itu, Boris Yeltsin tampil sebagai tokoh yang semakin dominan di mata publik.