Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Dampak Memakai Sepatu atau Barang yang Terpapar Zat Radioaktif?

Kompas.com, 13 November 2025, 20:00 WIB
Rheandita Vella Aresta,
Inten Esti Pratiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengonfirmasi bahwa Bea Cukai Belanda sempat menemukan sepatu kets asal Indonesia yang terkontaminasi zat radioaktif cesium-137.

Setelah ditelusuri, sepatu tersebut berasal dari pabrik di wilayah Banten dan pemeriksaan lanjutan menemukan bahwa ada satu kotak sepatu yang terpapar cesium.

Pihak Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) kemudian melakukan dekontaminasi menyeluruh di pabrik sepatu tersebut, yaitu PT Nikomas Gemilang.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin, Taufik Bawazier, memastikan bahwa pabrik tersebut kini telah dinyatakan bersih.

“Sudah ada surat dari Bapeten, sudah di-clearance, enggak ada masalah,” ujar Taufik, dikutip dari Kompas.com, Kamis (13/11/2025).

Berkaca dari kasus tersebut, apa saja dampaknya jika seseorang mengenakan sepatu atau barang yang terkontaminasi cesium-137?

Baca juga: Apa yang Terjadi Jika Terpapar Radioaktif Cesium-137? Berikut 6 Daftarnya

Efek mengenakan sepatu yang terpapar cesium-137 

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika RS Permata Jonggol, dr. Fitri Firdausiya, Sp.DVE, menjelaskan bahwa cesium-137 adalah isotop radioaktif yang memancarkan radiasi gamma berenergi tinggi serta partikel beta.

Karena itu, zat ini berbahaya bagi tubuh bila terpapar dalam jumlah yang signifikan.

“Zat ini dihasilkan dari reaksi fisi nuklir, misalnya pada pembangkit listrik tenaga nuklir atau ledakan bahan nuklir,” ujar dr. Fitri saat dihubungi Kompas.com, Kamis (13/11/2025).

Menurut dia, dampak paparan cesium-137 sangat tergantung pada tingkat dan durasi kontak.

Jika hanya berupa kontak eksternal dalam kadar ringan, efeknya biasanya terbatas pada iritasi atau kemerahan di kulit.

Namun, paparan dalam jumlah besar dan berulang, bisa menyebabkan luka bakar radiasi, penyakit radiasi akut, hingga meningkatkan risiko kanker dalam jangka panjang.

“Radiasi gamma dari cesium-137 memiliki energi tinggi sehingga dapat menembus jaringan tubuh," jelas dia.

"Karena itu, paparan yang besar atau terus-menerus bisa sangat berbahaya,” lanjutnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa jika kontaminasi ringan segera dibersihkan, efeknya umumnya minimal.

Dokter Fitri pun menyarankan langkah cepat jika seseorang dicurigai terpapar bahan radioaktif, termasuk dari barang seperti alas kaki.

“Prinsip utamanya adalah segera melepas barang yang diduga tercemar, lalu mencuci kulit dengan air mengalir dan sabun untuk menghilangkan sisa partikel,” kata dia.

Menurut dia, langkah sederhana tersebut penting untuk mencegah penyerapan lebih lanjut ke dalam jaringan kulit dan mengurangi risiko efek radiasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau