Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Leukemia Dominasi Kanker Anak dan Dokter Katakan Hati Gembira adalah Obat...

Kompas.com, 31 Januari 2026, 05:15 WIB
Fatimah Az Zahra,
Irawan Sapto Adhi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dokter spesialis anak konsultan hematologi-onkologi, dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A, Subsp. HO, MHA, mengatakan leukemia masih menjadi kanker yang paling banyak diderita anak-anak di Indonesia.

“Di Indonesia peringkat pertama, bahkan di mana pun, leukemia tetap menjadi kanker anak nomor satu,” ujarnya dalam siniar menyambut Hari Kanker Anak bersama Tribun Health di Kantor Tribunnews Solo, Jumat (30/1/2026).

Sementara itu, dokter penulis buku Waspada & Kenali Kanker pada Anak Sejak Dini tersebut menyebut, jenis kanker terbanyak kedua dan ketiga pada anak dapat berbeda-beda di setiap daerah.

Di Jakarta misalnya, retinoblastoma cukup banyak ditemukan sebagai kanker anak terbanyak kedua.

Hal senada disampaikan dokter spesialis anak konsultan yang telah banyak merawat pasien kanker anak hingga menjadi survivor, dr. Muhammad Riza, Sp.A(K), M.Kes.

Dari seluruh kasus yang ia tangani, sekitar 80 persen merupakan leukemia atau kanker darah. Ia menyebut, di wilayah Solo, kanker anak yang paling banyak ditemukan juga leukemia.

“Persentase paling tinggi di Solo adalah kanker darah atau leukemia. Yang kedua kanker tulang, kemungkinan karena ada rujukan dari RS Ortopedi. Ketiga kanker kelenjar getah bening,” kata Riza.

Baca juga: Ilmuwan Inggris Temukan Bersepeda Selama 10 Menit Berpotensi Lawan Kanker

"Hati gembira adalah obat"

Edi menekankan bahwa dalam penanganan kanker anak, kondisi psikologis memegang peranan penting. Ia mengutip ungkapan bahwa “hati gembira adalah obat”.

“Dalam kanker berlaku quote, hati gembira adalah obat. Ada penelitian dari dua universitas di Amerika Serikat yang menunjukkan anak-anak yang menjalani kemoterapi dalam kondisi sedih dan stres membuat pengobatan menjadi tidak efektif. Saya sendiri juga pernah melakukan penelitian kecil terkait hal ini,” jelas dokter yang sehari-hari berpraktik di Jakarta itu.

Ia menuturkan, salah satu pertanyaan paling sering diajukan anak-anak dan remaja saat mengetahui dirinya didiagnosis kanker adalah, “Aku masih bisa sekolah enggak?”

Dari pertanyaan itulah kemudian lahir konsep Hospital Schooling dalam perawatan kanker anak. Melalui konsep ini, proses perawatan dan pengobatan di rumah sakit dibuat menyerupai aktivitas sekolah.

Anak-anak akan menjalani “kelas” selama masa pengobatan dan kelak akan “lulus” serta “diwisuda” setelah menyelesaikan terapi.

Salah satu pendiri Childhood Cancer Care (3C) Solo, dr. Enny Listiawati, MPH, mengatakan konsep tersebut akan diwujudkan melalui Wisuda Kanker Anak yang digelar di RS Moewardi pada Sabtu (7/2/2026).

“Inspirasinya berasal dari seorang anak kecil yang sangat bersemangat menjalani kemoterapi karena orang tuanya memaknai pengobatan sebagai sekolah yang nantinya akan diwisuda,” ujar Enny.

Baca juga: BPOM Ungkap 23 Kosmetik Berbahaya dan Bisa Picu Kanker, Ada Pinkflash

Penyembuhan kanker tak hanya soal medis

Didirikannya organisasi Childhood Cancer Care (3C) juga bertujuan memberikan dukungan psikologis bagi anak-anak penderita kanker dan keluarganya.

Halaman:


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau