KOMPAS.com - Analisis terbaru mengungkap perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menghasilkan sekitar 5 juta ton emisi karbon dioksida (CO2) hanya dalam 14 hari pertama konflik.
Laporan yang dibagikan secara eksklusif kepada The Guardian pada Sabtu (21/3/2026) menyebut, lonjakan emisi tersebut bahkan melampaui total emisi tahunan dari puluhan negara kecil, menjadikan konflik ini sebagai salah satu bencana iklim yang signifikan.
Perang di kawasan Timur Tengah itu tidak hanya menewaskan ribuan orang dan menghancurkan infrastruktur, tetapi juga memperburuk krisis iklim global melalui aktivitas militer seperti penggunaan jet tempur, drone, dan rudal dalam skala besar.
Baca juga: 8 Negara yang Kapalnya Sudah Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, Mana Saja?
Ledakan di salah satu bangunan Lebanon yang diserang Israel di Desa Abbasiyyeh, 13 Maret 2026. Israel menyerang Hizbullah di Lebanon dalam lanjutan perang Iran yang meluas di Timur Tengah.Analisis menunjukkan, kerusakan bangunan menjadi kontributor terbesar emisi karbon.
Serangan terhadap infrastruktur bahan bakar fosil, pangkalan militer, kawasan sipil, hingga kapal di laut memicu lonjakan emisi dalam waktu singkat.
Data dari Iranian Red Crescent Society mencatat sekitar 20.000 bangunan sipil terdampak konflik. Dari sektor ini saja, emisi diperkirakan mencapai sekitar 2,4 juta ton setara CO2.
Direktur riset Climate and Community Institute, Patrick Bigger, mengatakan setiap serangan militer memperparah krisis iklim.
“Setiap serangan rudal adalah pembayaran awal untuk planet yang lebih panas dan tidak stabil, dan semua itu tidak membuat siapa pun lebih aman,” ujarnya.
Ia juga menilai geopolitik yang bergantung pada bahan bakar fosil tidak sejalan dengan upaya menjaga kelayakan bumi sebagai tempat tinggal.
Baca juga: Susul Malaysia, 20 Kapal Pakistan Kini Diizinkan Iran Lintasi Selat Hormuz, Bagaimana Caranya?
Selain kerusakan bangunan, konsumsi bahan bakar menjadi penyumbang emisi terbesar kedua.
Pesawat pembom berat Amerika Serikat bahkan dilaporkan terbang dari wilayah sejauh Inggris bagian barat untuk menyerang Iran.
Dalam dua pekan pertama, diperkirakan sekitar 150 hingga 270 juta liter bahan bakar digunakan oleh pesawat, kapal, dan kendaraan militer, menghasilkan sekitar 529.000 ton emisi CO2e.
Dampak besar juga terlihat di Teheran, ketika serangan Israel ke empat depot bahan bakar memicu kebakaran besar, awan gelap, hingga hujan hitam akibat jutaan liter bahan bakar yang terbakar.
Diperkirakan antara 2,5 hingga 5,9 juta barel minyak hangus dalam serangan tersebut serta aksi balasan Iran di kawasan Teluk, menghasilkan sekitar 1,88 juta ton emisi CO2e.
Baca juga: Lampu Hijau dari Iran, Pemerintah Bahas Mekanisme Pelintasan Dua Kapal Pertamina di Selat Hormuz