Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perang AS-Israel Vs Iran Sudah Picu Emisi 5 Juta Ton CO2, Jadi Ancaman Iklim Global

Kompas.com, 30 Maret 2026, 09:00 WIB
Muhammad Iqbal Amar,
Irawan Sapto Adhi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Analisis terbaru mengungkap perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menghasilkan sekitar 5 juta ton emisi karbon dioksida (CO2) hanya dalam 14 hari pertama konflik.

Laporan yang dibagikan secara eksklusif kepada The Guardian pada Sabtu (21/3/2026) menyebut, lonjakan emisi tersebut bahkan melampaui total emisi tahunan dari puluhan negara kecil, menjadikan konflik ini sebagai salah satu bencana iklim yang signifikan.

Perang di kawasan Timur Tengah itu tidak hanya menewaskan ribuan orang dan menghancurkan infrastruktur, tetapi juga memperburuk krisis iklim global melalui aktivitas militer seperti penggunaan jet tempur, drone, dan rudal dalam skala besar.

Baca juga: 8 Negara yang Kapalnya Sudah Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, Mana Saja?

Kerusakan bangunan jadi penyumbang terbesar

Ledakan di salah satu bangunan Lebanon yang diserang Israel di Desa Abbasiyyeh, 13 Maret 2026. Israel menyerang Hizbullah di Lebanon dalam lanjutan perang Iran yang meluas di Timur Tengah.AFP/KAWNAT HAJU Ledakan di salah satu bangunan Lebanon yang diserang Israel di Desa Abbasiyyeh, 13 Maret 2026. Israel menyerang Hizbullah di Lebanon dalam lanjutan perang Iran yang meluas di Timur Tengah.

Analisis menunjukkan, kerusakan bangunan menjadi kontributor terbesar emisi karbon.

Serangan terhadap infrastruktur bahan bakar fosil, pangkalan militer, kawasan sipil, hingga kapal di laut memicu lonjakan emisi dalam waktu singkat.

Data dari Iranian Red Crescent Society mencatat sekitar 20.000 bangunan sipil terdampak konflik. Dari sektor ini saja, emisi diperkirakan mencapai sekitar 2,4 juta ton setara CO2.

Direktur riset Climate and Community Institute, Patrick Bigger, mengatakan setiap serangan militer memperparah krisis iklim.

“Setiap serangan rudal adalah pembayaran awal untuk planet yang lebih panas dan tidak stabil, dan semua itu tidak membuat siapa pun lebih aman,” ujarnya.

Ia juga menilai geopolitik yang bergantung pada bahan bakar fosil tidak sejalan dengan upaya menjaga kelayakan bumi sebagai tempat tinggal.

Baca juga: Susul Malaysia, 20 Kapal Pakistan Kini Diizinkan Iran Lintasi Selat Hormuz, Bagaimana Caranya?

Bahan bakar jadi penyumbang kedua terbesar

Selain kerusakan bangunan, konsumsi bahan bakar menjadi penyumbang emisi terbesar kedua.

Pesawat pembom berat Amerika Serikat bahkan dilaporkan terbang dari wilayah sejauh Inggris bagian barat untuk menyerang Iran.

Dalam dua pekan pertama, diperkirakan sekitar 150 hingga 270 juta liter bahan bakar digunakan oleh pesawat, kapal, dan kendaraan militer, menghasilkan sekitar 529.000 ton emisi CO2e.

Dampak besar juga terlihat di Teheran, ketika serangan Israel ke empat depot bahan bakar memicu kebakaran besar, awan gelap, hingga hujan hitam akibat jutaan liter bahan bakar yang terbakar.

Diperkirakan antara 2,5 hingga 5,9 juta barel minyak hangus dalam serangan tersebut serta aksi balasan Iran di kawasan Teluk, menghasilkan sekitar 1,88 juta ton emisi CO2e.

Baca juga: Lampu Hijau dari Iran, Pemerintah Bahas Mekanisme Pelintasan Dua Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Halaman:


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau