KOMPAS.com - Jutaan warga Amerika Serikat (AS) turun ke jalan dalam gelombang protes besar-besaran dan terkoordinasi terhadap Presiden Donald Trump pada Sabtu (28/3/2026).
Para demonstran mengusung gerakan bertajuk “No Kings” atau "Tidak ada Raja" sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintahan Trump.
Aksi ini bahkan disebut sebagai salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah AS.
Dari New York City hingga California, serta dari wilayah pedesaan Kentucky hingga ibu kota negara, massa turun ke jalan, meneriakkan slogan, dan menyuarakan berbagai tuntutan kepada pemerintah.
Dilansir dari BBC, Minggu (29/3/2026), ada lebih dari 3.000 aksi direncanakan di seluruh negeri, dengan jumlah peserta diperkirakan melampaui 5-7 juta orang, melebihi gelombang protes yang terjadi dalam setahun terakhir.
Di Washington, D.C., aksi berlangsung sepanjang hari dengan ribuan orang berbaris di pusat kota.
Para demonstran memadati kawasan National Mall hingga tangga Lincoln Memorial.
Seperti dalam aksi “No Kings” sebelumnya, para pengunjuk rasa juga membawa berbagai atribut simbolik, termasuk patung Presiden Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta pejabat lainnya yang mereka tuntut untuk dicopot dan diproses hukum.
Para demonstran menilai Trump berupaya memerintah secara otoriter. Mereka menegaskan bahwa kekuasaan seharusnya berada di tangan rakyat, bukan pada figur yang dianggap ingin bertindak seperti raja atau didukung oleh elite miliarder.
Lantas, apa saja tuntutan mereka?
Baca juga: Demo Tak Ubah Apa pun, Warga Iran: Harga Makin Tinggi, Kami Makin Miskin
Aksi “No Kings” yang berlangsung di seluruh 50 negara bagian AS pada Maret 2026 merupakan protes massal terhadap Donald Trump.
Gerakan ini didorong oleh koalisi longgar yang menentang dugaan otoritarianisme, keterlibatan dalam konflik Iran, penegakan imigrasi yang agresif oleh ICE, serta meningkatnya biaya hidup.
Para demonstran menyuarakan penolakan terhadap gaya kepemimpinan yang mereka anggap menyerupai “diktator” atau “monarki”, termasuk kritik terhadap militerisasi demokrasi dan kehadiran aparat federal di kota-kota besar.
Adapun sejumlah tuntutan utama yang disuarakan antara lain:
“Kita memiliki presiden yang di luar kendali,” kata Ken Wyben, seorang demonstran dan veteran dari New York City, dikutip dari TIME, Minggu.