KOMPAS.com - Pertandingan final FIFA Series 2026 antara Timnas Indonesia dengan Bulgaria akan menjadi momen yang penuh emosi bagi pelatih tim lawan, Aleksandar Dimitrov.
Aleksandar Dimitrov merasa sangat antusias dapat kembali ke Jakarta untuk menghadapi skuad Garuda di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada Senin (30/3/2026).
Laga ini mempertemukan dua tim yang tampil impresif pada babak sebelumnya.
Timnas Indonesia sukses mengunci tiket final setelah menundukkan Saint Kitts and Nevis dengan skor telak 4-0.
Sementara itu, kubu lawan datang dengan status tim produktif usai melumat Kepulauan Solomon melalui kemenangan mencolok 10-2.
Baca juga: Abaikan Peringkat FIFA, Pelatih Bulgaria Enggan Remehkan Timnas Indonesia
Bagi Aleksandar Dimitrov duel ini bukan sekadar perebutan trofi di bawah naungan FIFA.
Pria berusia 49 tahun tersebut memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan sepak bola Indonesia.
Melansir dari Transfermarkt, ia pernah merumput di Liga Indonesia bersama Persija Jakarta pada 2003, serta membela Gresik United dan Persipura Jayapura.
Lebih dari itu, ia tercatat pernah menjabat sebagai asisten pelatih skuad Garuda pada tahun 2007 silam.
Hal inilah yang membuat pertandingan besok terasa sangat personal baginya.
"Bagi saya, kami senang kita akan saling berhadapan, terutama bagi saya," kata Dimitrov dikutip dari BolaSport.
"Pertandingan melawan Indonesia adalah pertandingan spesial, karena Anda tahu bahwa saya adalah pemain sekaligus asisten pelatih Timnas Indonesia."
Baca juga: Bali United Sambut Positif Kembalinya Jens Raven ke Timnas Indonesia
"Saya memiliki banyak kenangan indah di sini. Dan, pertandingan ini akan sangat spesial bagi saya," lanjutnya.
Kendati unggul secara peringkat di tabel federasi sepak bola dunia, Dimitrov menegaskan bahwa fokus utamanya adalah performa di lapangan hijau.
Pemain Timnas Indonesia Kevin Diks melakukan tendangan bebas ke gawang Saint Kitts and Nevis pada laga FIFA Series 2026 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3/2026). Indonesia menang 4-0 atas Saint Kitts and Nevis.Ia memilih untuk menepis statistik di atas kertas dan lebih mengutamakan analisis taktik untuk meredam strategi tuan rumah.