Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menjaga Waras di Dunia yang Tak Stabil: Makna Hari Kesehatan Mental

Kompas.com, 10 Oktober 2025, 21:09 WIB
Lusia Kus Anna

Penulis

KOMPAS.com - Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 yang jatuh setiap tanggal 10 Oktober, diperingati di tengah berbagai kondisi ketidakstabilan global mulai dari krisis iklim, konflik politik, hingga perang yang berkecamuk. Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan mental masyarakat. 

Berkat kemajuan teknologi informasi, kita terpapar berita hampir setiap saat. Tidak hanya dari televisi atau situs berita, tapi juga media sosial. Sayangnya, sebagian besar berita yang kita baca berisikan krisis.

Terlalu sering terpapar berita bisa bikin kepala penuh dan kita terbebani secara emosional. Kita bisa merasa cemas, takut, bahkan merasa bersalah tanpa tahu harus berbuat apa. 

Di tengah situasi ini, Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 membawa pesan penting: “Akses Layanan Kesehatan Mental dalam Bencana dan Keadaan Darurat.” 

Tema ini menyerukan agar kesehatan mental mendapat perhatian serius, terutama dalam situasi krisis.

Baca juga: Pentingnya Menjaga Kewarasan di Era Banjir Informasi

Akses pada kesehatan jiwa adalah kebutuhan mendesak

Menurut psikiater dr.Andri Sp.KJ, tema ini merupakan sebuah pesan kuat bahwa di tengah bencana, konflik, atau tekanan hidup sehari-hari, akses terhadap layanan kesehatan jiwa bukanlah kemewahan, tetapi kebutuhan mendesak.

"Kecemasan dalam situasi bencana adalah reaksi alami. Tubuh kita diciptakan untuk waspada terhadap ancaman. Tetapi, ketika kewaspadaan itu berlangsung terlalu lama tanpa jeda, maka sistem tubuh kita kelelahan, muncullah gangguan tidur, sakit perut, detak jantung cepat, bahkan rasa 'sakit' yang tidak dapat dijelaskan secara medis," papar dr.Andri, dalam pesan tertulis kepada Kompas.com (10/10/2025).

Menurutnya,  dalam banyak bencana layanan psikiatri dan psikologis sering kali tertinggal di belakang bantuan fisik seperti makanan dan obat. Padahal menurut WFMH (2025), dukungan psikososial dini dapat mencegah trauma menjadi kronis. 

Baca juga: 10 Cara Menjaga Kesehatan Mental Setiap Hari Menurut Psikolog

Ilustrasi bahagia. Bukan uang dan popularitas, ternyata ada beberapa aspek yang menjadi sumber kebahagiaan.Shutterstock/Jacob Lund Ilustrasi bahagia. Bukan uang dan popularitas, ternyata ada beberapa aspek yang menjadi sumber kebahagiaan.

"WHO juga merekomendasikan agar semua tenaga darurat dilatih dalam psychological first aid (pertolongan pertama psikologis) agar mereka dapat membantu menenangkan korban secara emosional sebelum trauma semakin dalam," katanya.

Ia memaparkan, sebagai psikiater yang sehari-hari menangani pasien dengan gangguan cemas dan psikosomatik, ia telah menyaksikan bagaimana stres dan ketidakpastian sering kali bermanifestasi menjadi keluhan tubuh. 

"Rasa sesak, nyeri di dada, pusing, lelah tanpa sebab — semuanya bisa menjadi bahasa tubuh yang menandakan pikiran sedang tidak tenang," ujar dokter yang berpraktik di RS EMC Alam Sutera Tangerang ini.

Baca juga: Modul Penanganan Psikosomatis Dokter Indonesia Dipresentasikan di Jerman

Memperkuat layanan kesehatan jiwa di Puskesmas

Menurut dr.Andri, krisis sering kali memperlihatkan kelemahan sistem, tetapi juga membuka peluang untuk memperbaikinya. 

Beberapa negara seperti Sri Lanka dan Filipina berhasil memperkuat sistem kesehatan jiwanya setelah bencana besar. Mereka memanfaatkan momentum krisis untuk membangun layanan mental health yang lebih merata dan berbasis komunitas.

"Indonesia juga memiliki potensi besar ke arah itu. Dengan memperkuat layanan kesehatan jiwa di puskesmas, memberikan pelatihan psychological first aid bagi petugas lapangan, dan mengedukasi masyarakat agar lebih terbuka terhadap isu mental health, kita bisa memastikan bahwa setiap jiwa memiliki akses untuk sembuh, kapan pun dan di mana pun," katanya.

Ia menegaskan, tidak ada ketahanan nasional tanpa ketenangan batin warganya.

Baca juga: Mimpi Generasi Emas: Krisis Mental Remaja Indonesia

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau