TEHERAN, KOMPAS.com - Dalam hitungan kurang dari 100 hari, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia—ajang bergengsi yang juga melibatkan Iran sebagai peserta.
Namun, pada 28 Februari lalu, AS melancarkan serangan terhadap Iran dalam operasi tempur gabungan bersama Israel, yang kemudian dibalas Iran dengan melancarkan rentetan serangan ke berbagai lokasi di Timur Tengah.
Pertanyaannya kini: bagaimana pertikaian tersebut akan berpengaruh terhadap negara-negara yang terlibat, terhadap posisi FIFA sebagai penyelenggara, dan terhadap sebuah turnamen yang sejak awal sudah sarat dengan nuansa politik?
BBC Sport mencoba mengurai lebih dalam.
Baca juga: Disangkal Trump, Siapa Sebenarnya yang Mengebom Sekolah Putri di Iran?
Iran dijadwalkan tampil dalam pertandingan di Grup G Piala Dunia menghadapi Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles, lalu Mesir di Seattle. Ini adalah penampilan Iran keempat kali secara beruntun pada putaran final Piala Dunia.
Tahun lalu, meski Amerika Serikat membombardir tiga fasilitas nuklir di Iran, negara itu tetap tidak menarik diri dari Piala Dunia. Namun, setelah eskalasi terbaru yang jauh lebih serius sejak 28 Februari, Ketua Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mulai meragukan partisipasi timnya.
"Dengan apa yang terjadi… dan serangan Amerika Serikat, kecil kemungkinan kami bisa menatap Piala Dunia. Tapi keputusan tetap ada di tangan para pemimpin olahraga," ujar Mehdi Taj dalam siaran televisi Iran.
Situasi semakin rumit setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menimbulkan ketidakpastian soal arah politik negara tersebut. Menentukan apakah Iran akan bertahan di turnamen—atau siapa yang berwenang mengambil keputusan—menjadi hal yang mustahil ditebak.
"Bagi Teheran, ini bukan perang singkat 12 hari atau eskalasi terbatas yang bisa dihentikan lalu dimulai kembali," kata Dr Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga kajian internasional Chatham House.
"Tahap konflik baru ini bersifat eksistensial, menyangkut kelangsungan rezim, dan tampaknya tidak akan berakhir dalam waktu dekat."
FIFA, badan tertinggi sepak bola dunia, menyatakan tengah memantau perkembangan situasi.
Sejauh ini para pejabat FIFA masih memperkirakan Iran akan tetap tampil di Piala Dunia. Pada Sabtu (28/2/2026) lalu, Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom menegaskan: "Fokus kami adalah memastikan Piala Dunia berlangsung aman dengan semua peserta ikut serta."
Menurut regulasi FIFA, jika ada tim yang mundur atau dikeluarkan, FIFA berhak mengambil langkah yang dianggap perlu, termasuk mengganti dengan negara lain.
BBC Sport telah bertanya kepada FIFA di tengah spekulasi bahwa Iran bisa digantikan oleh tim dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Dalam skenario tersebut, Irak—yang masih berpeluang lolos melalui play-off akhir bulan ini—atau Uni Emirat Arab, yang sebelumnya gagal lolos, difavoritkan untuk mengisi posisi kosong.