Penulis
WASHINGTON, KOMPAS.com - Memasuki pekan keempat, serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran tak kunjung mereda.
Berbagai laporan menyatakan, perang ini jauh melampaui ekspektasi para pejabat AS dan Israel yang semula merencanakan serangan singkat.
Laporan New York Times baru-baru ini, misalnya, mengungkapkan bahwa Badan Intelijen Israel, Mossad menganggap pemerintahan Iran akan mudah digulingkan seiring terbunuhnya tokoh-tokoh kunci.
Namun, harapan akan runtuhnya pemerintahan teokratis Teheran dari dalam justru tak kunjung terwujud hingga kini.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan balasan ke Negara Teluk dan membatasi Selat Hormuz, sehingga memicu krisis energi.
Baca juga: Demi Negosiasi, AS-Israel Hapus Dua Nama Pejabat Iran dari Daftar Target
Presiden AS, Donald Trump sejak awal menuding Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan itu juga menjadi alasan utama AS-Israel menyerang Iran.
Trump berulang kali menyatakan bahwa ia memerintahkan serangan terhadap Iran bersama Israel pada 28 Februari karena adanya ancaman yang segera terjadi.
Padahal, temuan badan intelijen AS menunjukkan hasil yang bertolak belakang.
Berdasarkan temuan itu, dikutip dari AFP, Iran kini tidak sedang membangun kembali kapasitas pengayaan nuklirnya yang sebelumnya dihancurkan dalam serangan militer.
Baca juga: Trump Sebut Iran Ingin Capai Kesepakatan Damai, tapi Takut Mengakui
“Sebagai hasil dari Operasi Midnight Hammer, program pengayaan nuklir Iran telah dilenyapkan,” kata Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, Rabu (18/3/2026), dalam kesaksian tertulisnya di hadapan Komite Intelijen Senat, merujuk pada serangan AS pada Juni 2025.
“Sejak saat itu, tidak ada upaya untuk mencoba membangun kembali kemampuan pengayaan mereka,” sambungnya.
Selain nuklir, tuduhan Trump mengenai rudal Iran yang bisa menjangkau Washington juga tak terbukti.
Masih dari temuan intelijen AS, Tulsi Gabbard dan Direktur CIA John Ratcliffe menolak mengonfirmasi klaim bahwa Teheran akan memiliki kemampuan rudal balistik antarbenua (ICBM) dalam waktu enam bulan ke depan.
Gabbard menegaskan kembali penilaian Badan Intelijen Pertahanan bahwa Iran memerlukan waktu setidaknya satu dekade untuk mengatasi hambatan teknologi guna memproduksi senjata yang bisa menjangkau AS.
Baca juga: Jika AS Nekat Lakukan Invasi Darat, Iran Akan Tutup Laut Merah
Seorang tentara AS mengamati para pekerja membongkar salah satu patung dada perunggu raksasa Saddam Hussein di bekas istana kepresidenan di Baghdad, 2 Desember 2003. Koalisi pimpinan AS terlibat dalam pemindahan empat kepala perunggu besar pemimpin Irak yang digulingkan, Saddam Hussein, yang menghiasi bekas istana kepresidenannya di Baghdad, yang sekarang menjadi markas pengawas AS, Paul Bremer. Koalisi mengalokasikan 35.000 dolar untuk pemindahan kepala-kepala tersebut yang menggambarkan Saddam yang berwajah tegas dan mengenakan helm sebagai pejuang heroik Arab, Saladin.