Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jerman Getol Impor Pekerja dari India, Imbas Kekurangan Tenaga Kerja

Kompas.com, 26 Maret 2026, 12:04 WIB
BBC INDONESIA,
Inas Rifqia Lainufar

Tim Redaksi

BERLIN, KOMPAS.com - Industri dan dunia bisnis Jerman terus menghadapi kesulitan akibat kekurangan tenaga kerja terampil, seiring banyaknya staf lanjut usia yang pensiun dan sedikitnya kandidat muda untuk menggantikan mereka. Guna mengatasi masalah tersebut, negara itu semakin banyak merekrut pekerja dari India.

Bagi Handirk von Ungern-Sternberg, semuanya dimulai dengan sebuah email yang masuk ke kotak suratnya pada Februari 2021. Email itu datang dari India.

Inti pesannya adalah, "Kami punya banyak orang muda yang termotivasi dan mencari pelatihan vokasional, dan kami ingin tahu apakah Anda tertarik."

Baca juga: Butuh Tenaga Kerja, Rusia Lirik Pengangguran India

Saat itu, Von Ungern-Sternberg bekerja untuk Lembaga Pengrajin Terampil Freiburg di Jerman barat daya, sebuah kamar dagang yang mewakili para pekerja terampil—mulai dari tukang batu dan tukang kayu, hingga tukang daging dan pembuat roti—serta perusahaan yang mempekerjakan mereka.

Email tersebut datang pada saat yang tepat.

"Banyak pengusaha yang putus asa, tidak bisa menemukan siapa pun untuk bekerja bagi mereka," kata Von Ungern-Sternberg.

"Jadi kami memutuskan untuk mencoba."

Von Ungern-Sternberg lantas berupaya menghubungi ketua serikat tukang daging setempat. Tukang daging di seluruh Jerman saat itu menghadapi kesulitan besar. Sektor ini memang sedang mengalami penurunan tajam.

Dari 19.000 usaha kecil keluarga pada 2002, jumlahnya merosot menjadi kurang dari 11.000 pada 2021. Para pengusaha hampir mustahil menemukan anak muda yang mau mengikuti program magang.

"Perdagangan daging itu pekerjaan berat," kata Ketua Serikat Tukang Daging Jerman, Joachim Lederer.

"Dan selama sekitar 25 tahun terakhir, anak-anak muda memilih jalur lain," ujarnya.

Di India, di Magic Billion—agen tenaga kerja yang mengirim email pertama itu—berhasil merekrut 13 anak muda ke Jerman pada musim gugur 2022 untuk memulai magang sebagai tukang daging di kota-kota kecil di sepanjang perbatasan dengan Swiss. Mereka juga menghabiskan sebagian waktu di perguruan tinggi.

Di antara mereka adalah Anakha Miriam Shaji, 21 tahun. Seperti banyak rekannya, ini adalah pertama kalinya ia meninggalkan India.

Dia masih ingat rasa antusiasnya. "Saya ingin melihat dunia," katanya. "Saya ingin meningkatkan standar hidup saya. Saya ingin jaminan sosial yang baik."

Anakha datang untuk bekerja dengan Lederer di Kota Weil am Rhein, di ujung barat daya Jerman, yang berbatasan dengan Swiss dan Perancis.

Halaman:


Terkini Lainnya
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau