Penulis
PARIS, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Rubio menuding pemimpin Ukraina tersebut telah berbohong terkait tuntutan Washington dalam kesepakatan damai dengan Rusia.
Perselisihan ini bermula dari pernyataan Zelensky dalam sebuah wawancara yang menyebut bahwa AS menekan Ukraina untuk menyerahkan wilayah Donbas atau Ukraina timur kepada Rusia.
Baca juga: Perang Iran Alihkan Perhatian Dunia, Bagaimana Nasib Ukraina?
Menurut Zelensky, hal itu diminta AS sebagai syarat sebelum memfinalisasi jaminan keamanan pascaperang bagi Ukraina.
Menanggapi hal tersebut, Rubio dengan tegas membantahnya saat berbicara kepada wartawan di Paris, Perancis, usai pertemuan dengan negara-negara anggota G7.
"Itu bohong," ujar Rubio singkat saat ditanya mengenai pernyataan Zelensky, Jumat (27/3/2026), sebagaimana dilansir Euronews.
"Saya melihat dia (Zelensky) mengatakan hal itu dan sangat disayangkan dia mengatakannya, karena dia tahu itu tidak benar," lanjut Rubio.
Baca juga: Biaya Naik, Putin Minta Crazy Rich Rusia Sumbang Dana Perang Lawan Ukraina
Rubio menjelaskan bahwa posisi AS sebenarnya berkaitan dengan logika keterlibatan perang, bukan pertukaran wilayah.
Dia menekankan bahwa jaminan keamanan baru bisa diberikan setelah konflik bersenjata berakhir.
Rubio juga menegaskan bahwa syarat tersebut tidak berkaitan dengan penyerahan wilayah.
"Hal itu tidak dikaitkan dengan keharusan dia menyerahkan wilayah. Saya tidak tahu mengapa dia mengatakan hal-hal seperti itu. Itu tidak benar," tambahnya.
Kritik pedas ini tergolong mencolok mengingat rekam jejak Rubio. Mantan senator ini sebelumnya dikenal sebagai sosok hawkish yang cenderung lebih mendukung Ukraina dibandingkan tokoh-tokoh lain di lingkaran Presiden AS Donald Trump.
Baca juga: Trump Klaim Tak Butuh Bantuan Zelensky Tangani Drone Iran, Suruh Akhiri Perang Ukraina
Selain masalah Donbas, Rubio juga menyinggung kemungkinan pengalihan bantuan militer Ukraina untuk mendukung kepentingan AS dalam konflik dengan Iran.
Dia menyatakan keterbukaan Washington untuk menggeser bantuan persenjataan setelah AS dan Israel menyerang Iran yang dimulai pada 28 Februari.
"Belum ada yang dialihkan saat ini, tetapi itu bisa saja terjadi," ungkap Rubio.