Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lebih dari Sekadar Musikal, Jemari Hidupkan Harapan Baru bagi Komunitas Tuli pada Hari Disabilitas Internasional

Kompas.com, 7 Desember 2025, 12:15 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Di ruang gelap yang dipenuhi dengung percakapan penonton, keheningan tiba-tiba terasa begitu utuh. Saat lampu sorot menimpa panggung, barisan pemain mulai bergerak, tanpa satu kata pun terdengar. Meski demikian, pesan itu jelas, hidup, dan menyentuh jauh melampaui suara.

Itulah Jemari, teater musikal Tuli pertama di Indonesia yang dipersembahkan oleh Fantasi Tuli bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional di Komunitas Salihara, Jakarta, Rabu (3/12/2025). Pertunjukan ini hadir sebagai pengingat bahwa seni tidak pernah dimiliki oleh satu kelompok saja.

“Kalau ada kemauan dan lingkungan yang mendukung, semua bisa,” kata Produser Musikal Jemari Pascal Meliala.

Baca juga: Rayakan Hari Disabilitas, Rizky Febian dan Adrian Khalif Tampil dengan Penari Down Syndrome di Pesta Inklusif 2025

Baginya, Jemari bukan sekadar pertunjukan, melainkan pernyataan publik bahwa teman-teman Tuli mampu melakukan hal yang selama ini dianggap mustahil, yakni tampil dalam musikal sebagai pertunjukan yang sangat mengandalkan suara.

“Kami ingin menunjukkan bahwa musikal bisa menyatukan Tuli dan Dengar,” ujar Pascal.

Sutradara Hasna Mufidah mengangguk setuju. Ia seorang Tuli dan telah lama bermimpi membuat karya yang memberi ruang representasi lebih adil.

“Ini pertama kali teman Tuli dan Dengar tampil bersama dalam satu musikal penuh. Dan kami ingin penonton merasakan bahwa seni bisa menjadi jembatan, bukan batas,” tutur perempuan yang akrab disapa Mufi itu.

Baca juga: Hari Disabilitas Internasional 3 Desember: Sejarah Lengkap dan Tema Resmi 2025

Tidak ada yang instan dari Jemari. Mufi menceritakan bahwa persiapan memakan waktu enam bulan yang dimulai dari riset mendalam tentang kehidupan keluarga dengan dinamika Tuli dan Dengar, baik tentang orangtua dengar dengan anak Tuli, orangtua Tuli dengan anak dengar, maupun keduanya Tuli.

Tim produksi ingin ceritanya terasa universal, dekat, dan dapat dipahami siapa pun, tanpa menjadikan disabilitas sebagai pusat belas kasih.

“Kami ingin ceritanya soal keluarga, karena itu pengalaman yang bisa dipahami siapa saja,” kata Mufi.

Lalu dimulailah tiga bulan latihan intensif yang mempertemukan 17 pemain dari dua dunia berbeda, yakni sembilan teman Tuli dan delapan teman Dengar.

Menariknya, menurut Pascal, tantangan mereka bukanlah perbedaan kemampuan pendengaran.

“Teman-teman Tuli justru punya kemauan yang besar. Mereka disiplin sekali,” katanya.

Tantangan terbesar justru datang dari luar, yakni kenyataan bahwa teater musikal belum benar-benar menjadi industri di Indonesia. Banyak pemain harus membagi waktu antara pekerjaan atau kuliah dengan latihan, sedangkan pertunjukan akhir pekan bisa mencapai dua kali sehari.

Baca juga: Bali Luncurkan Unit Layanan Disabilitas untuk Penanggulangan Bencana

Di sisi artistik, desain musikal yang menggunakan playback dipilih bukan tanpa alasan. Musik live bisa menghadirkan dinamika yang menarik, tetapi dalam konteks inklusif, konsistensi ritme dan tempo penting agar pemain Tuli dapat menandai momen dengan tepat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau