Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 2 Maret 2026, 19:16 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Faisal masih mengingat masa ketika usaha pertanian nilam dijalankan dengan cara paling sederhana, yakni tanam, panen, suling, lalu jual.

Kala itu, tidak ada pencatatan produksi yang rapi, perhitungan biaya detail, apalagi histori harga yang terdokumentasi.

“Kalau ditanya untungnya berapa, ya sulit jawabnya,” cerita Ketua Koperasi Nilam Lhoong Aceh Sejahtera (NILAS) itu saat dihubungi Kompas.com, Senin (9/2/2026).

Kondisi tersebut bukan hanya menyulitkan petani menghitung laba, melainkan juga membuat usaha mereka kerap dinilai belum layak kredit atau istilahnya unbankable oleh lembaga keuangan.

Situasi tersebut terjadi bukan karena petani tidak ingin tertib, melainkan karena sistem pendukung belum tersedia.

Baca juga: Nilam Aceh Bangkit di Tengah Regulasi EUDR

Bagi lembaga keuangan, kondisi seperti ini berarti satu hal, yakni risiko. Pertanian, termasuk nilam, sering dinilai sebagai sektor fluktuatif. Tanpa data produksi, kepastian pembeli, dan laporan keuangan sederhana, bank kesulitan melakukan analisis kelayakan kredit.

Padahal, sebagai bahan baku industri parfum, kosmetik, dan produk perawatan kulit (skincare), permintaan minyak nilam Aceh terbilang stabil.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, Indonesia menjadi salah satu produsen utama minyak asiri dunia. Adapun minyak nilam menyumbang 54 persen dari ekspor minyak asiri Indonesia dengan nilai Rp 2,32 triliun. Sektor ini juga menyerap lebih dari 20.000 tenaga kerja.

Ironisnya, kontribusi besar tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kemudahan akses pembiayaan bagi petani di tingkat hulu.

Sementara itu, Kementerian Pertanian mencatat, ekspor nilam menunjukkan tren positif sejak 2019 dan diperkirakan terus tumbuh hingga 2027 dengan rata-rata pertumbuhan 0,88 persen per tahun.

Tren pertumbuhan tersebut menandakan peluang pasar yang masih terbuka lebar. Namun, di saat yang sama, peningkatan permintaan global juga diikuti dengan tuntutan kualitas dan tata kelola produksi yang semakin ketat.

Baca juga: Minyak Nilam Aceh Tembus Pasar Eropa

Negara-negara tujuan ekspor tidak lagi hanya mempertimbangkan volume dan harga, tetapi juga aspek keberlanjutan dan kepatuhan terhadap standar budidaya.

Bahkan, pasar ekspor mensyaratkan standar lebih tinggi, seperti ketertelusuran (traceability) dan penerapan good agricultural practice (GAP).

Di titik inilah masalahnya menjadi jelas. Akses pembiayaan saja tidak cukup. Tanpa sistem, modal bisa berubah menjadi beban.

Persoalan yang dihadapi petani nilam mencerminkan tantangan lebih luas di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), khususnya di sektor informal berbasis pertanian.

Gap literasi dan inklusi keuangan

Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ludy Arlianto menegaskan bahwa kendala utama UMKM memang akses pendanaan. Namun, itu bukan satu-satunya hambatan.

“Kendala utama, betul, akses ke pendanaan. Itu clear. UMKM kita punya kendala di situ. Kendala yang kedua, sumber daya manusia itu sendiri,” jelas Ludy dalam diskusi media bertajuk “Inklusi Keuangan dan Keberlanjutan UMKM melalui Promise II Impact” di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Ia menjelaskan, tidak sedikit pelaku usaha yang sudah memperoleh pembiayaan, tetapi belum mampu mengelolanya secara optimal.

Pada praktiknya, lanjut Ludy, pelaku usaha belum bisa membuat laporan keuangan sederhana. Tak jarang, mereka juga mencampur arus kas pribadi dan bisnis.

Menurut Ludy, tanpa pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga serta pencatatan arus kas, pelaku usaha akan kesulitan mengetahui posisi bisnisnya sendiri. Bagi perbankan, ini meningkatkan risiko gagal bayar.

“Artinya, persoalan UMKM bukan sekadar soal keterbatasan modal, melainkan juga kapasitas pengelolaan dan tata kelola usaha,” tambah dia.

Baca juga: Minyak Nilam Indonesia yang Mengharumkan Dunia

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau