KOMPAS.com - Hutan mangrove semakin terancam oleh kenaikan suhu air laut, menurut peneliti dari Universitas Gothenburg di Swedia yang mengamati 23 lokasi mangrove di dunia.
Air di hutan mangrove selalu berubah seiring pasang surutnya laut. Saat air surut, kadar oksigen menurun, sedangkan kadar karbon dioksida meningkat sehingga ikan dan makhluk laut lainnya menjadi lebih sulit untuk bernapas.
Baca juga:
Hanya hewan yang sudah beradaptasi dengan lingkungan mangrove yang bisa bertahan dalam kondisi ini, dilansir dari Phys.org, Kamis (12/3/2026).
Ketika pasang, air laut yang segar membawa lebih banyak oksigen dan menurunkan kadar karbon dioksida.
Pada waktu inilah spesies yang lebih sensitif, termasuk ikan-ikan yang penting bagi perdagangan, masuk ke dalam hutan mangrove untuk mencari makan atau berlindung.
Hutan mangrove semakin terancam oleh kenaikan suhu air laut, khususnya terkait kadar oksigen dan karbon dioksida yang berdampak pada ikan.Pemanasan global yang meningkatkan suhu lautan di seluruh dunia pada akhirnya turut memengaruhi hutan mangrove.
Dengan menggunakan berbagai perkiraan iklim, para peneliti mempelajari bagaimana air di hutan mangrove akan berubah akibat lautan yang semakin panas dan kadar karbon dioksida yang terus meningkat.
Dalam semua skenario yang dipelajari, kondisi buruk menjadi semakin parah dan bertahan lebih lama sehingga mengurangi waktu bagi ikan dan makhluk laut lainnya untuk berlindung di hutan mangrove.
Dalam beberapa kasus, kondisinya bisa mencapai titik ketika banyak ikan akan benar-benar kesulitan untuk bernapas.
Untuk memahami seberapa sering perubahan pasang surut ini menciptakan kondisi buruk bagi kehidupan laut, kadar oksigen dan karbon dioksida di hutan mangrove seluruh dunia diukur secara bersamaan untuk pertama kalinya.
Studi yang dipublikasikan di Geophysical Research Letters ini mengungkapkan adanya pola gangguan lingkungan yang terjadi secara global.
"Saya terkejut melihat banyak sistem mangrove ternyata sudah mengalami kondisi yang sangat ekstrem," kata ahli kimia kelautan di Universitas Gothenburg dan penulis utama studi ini, Gloria Reithmaier.
"Terutama di wilayah tropis yang hangat, terdapat periode panjang ketika kadar oksigen rendah dan karbon dioksida tinggi sehingga menyisakan sedikit waktu bagi ikan-ikan yang sensitif untuk masuk ke dalam hutan mangrove," tambah dia.
Baca juga:
Hutan mangrove semakin terancam oleh kenaikan suhu air laut, khususnya terkait kadar oksigen dan karbon dioksida yang berdampak pada ikan.Kadar karbon dioksida di mangrove di Amazon, Brasil, dan India, disebut sudah sangat tinggi. Dibandingkan dengan mangrove yang jauh dari khatulistiwa, sistem di wilayah tropis ini sudah bekerja hampir di batas kemampuannya.
"Habitat yang sangat beragam ini mungkin akan menjadi yang pertama kali kehilangan spesies-spesies yang sensitif seiring dengan meningkatnya suhu lautan dan kadar karbon dioksida," kata Reithmaier.
Tekanan lingkungan yang meningkat secara bertahap dapat mengurangi keanekaragaman hayati di ekosistem mangrove. Dengan demikian, hanya spesies yang paling tahan banting yang bisa bertahan.
Dampak ini diperkirakan akan memberikan pukulan keras bagi negara-negara berkembang di wilayah tropis. Hal itu karena perikanan dan mata pencaharian pesisir mereka sangat bergantung pada mangrove.
"Kemungkinan besar, jenis ikan yang paling dibutuhkan masyarakat adalah jenis yang paling terdampak parah," terang Reithmaier.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya