Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

SDGs Center Perlu Jembatani Kesenjangan Riset dan Kebijakan

Kompas.com, 30 Maret 2026, 13:47 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pusat studi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs Center) di perguruan tinggi didorong untuk menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan dunia kebijakan yang selama ini berjalan dengan karakter berbeda.

Direktur SDGs Center Universitas Padjadjaran, Zuzy Anna, mengatakan perbedaan tersebut terlihat dari aspek waktu, cara komunikasi, tingkat kepercayaan, hingga faktor ekonomi-politik.

Menurut dia, dunia akademik cenderung menekankan ketelitian dan analisis mendalam, sementara dunia kebijakan membutuhkan keputusan yang cepat dan relevan secara praktis.

Baca juga: Krisis Ekologi Sumatra: Sebuah Utopia Pembangunan Berkelanjutan

“Saya ingat Bu Susi pernah bilang, ‘Saya punya insting praktikal, lebih baik digunakan daripada menunggu riset yang lama’,” ujar Zuzy dalam webinar Best Practices from SDGs Centers in the Java Region, Sabtu (28/3/2026).

Ia menjelaskan, perbedaan cara kerja tersebut kerap menimbulkan ketidaknyambungan antara hasil riset dan kebijakan (research-policy disconnect). Hasil riset yang berkualitas tinggi pun tidak otomatis diadopsi dalam kebijakan.

Hal ini karena dunia akademik menghasilkan publikasi ilmiah dengan analisis kompleks, sedangkan pembuat kebijakan lebih membutuhkan wawasan yang dapat langsung digunakan dalam pengambilan keputusan.

“Jadi, sebenarnya bukan masalah kualitas, tetapi perbedaan sistem kerja dan insentif,” kata Zuzy.

Ia menyebutkan, terdapat tiga cara agar riset dapat memengaruhi kebijakan. Pertama, *instrumental use*, yakni ketika hasil riset langsung digunakan dalam kebijakan, misalnya dalam penyusunan target Rencana Aksi Daerah atau Rencana Aksi Nasional SDGs.

“Angka yang dihasilkan bisa langsung masuk ke dokumen kebijakan, tetapi dalam praktiknya hal ini masih jarang terjadi,” ujarnya.

Kedua, *conceptual use*, di mana riset tidak langsung menjadi kebijakan, tetapi memengaruhi cara berpikir para pemangku kepentingan. Ketiga, symbolic use, yakni ketika riset digunakan untuk melegitimasi kebijakan yang telah atau akan diambil.

Menurut Zuzy, kontribusi SDGs Center selama ini lebih banyak berada pada ranah konseptual.

“Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi memengaruhi bagaimana kebijakan itu dipikirkan dan dirumuskan,” katanya.

Baca juga: Isu SDGs Masih Minim Dikenal, Alumni SDG Academy Indonesia Terjun ke Sekolah

Ia menambahkan, ada sejumlah faktor yang menentukan apakah riset dapat berpengaruh terhadap kebijakan. Di antaranya adalah keterlibatan pemerintah sejak awal proses penelitian (co-production) dan komunikasi sejak tahap awal (early engagement).

Selain itu, kepercayaan dan independensi lembaga (legitimacy), relevansi kebijakan (policy relevance), serta keberlanjutan hubungan dengan pemerintah (continuity) juga menjadi faktor penting.

Zuzy menekankan bahwa SDGs Center perlu memiliki identitas ganda (*hybrid identity*), yakni menjaga kualitas akademik sekaligus memahami kebutuhan praktis pembuat kebijakan.

“Ini posisi yang tidak selalu mudah, tetapi sangat penting,” ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau