Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak Mendadak Malas Sekolah Bisa Jadi Tanda Gangguan Perilaku

Kompas.com, 2 Maret 2026, 04:00 WIB
Nabilla Ramadhian,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

Konsultasi Tanya Pakar Parenting

Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel

Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Orangtua sering menganggap keengganan anak untuk pergi ke sekolah sebagai bentuk kemalasan, sekadar mencari perhatian, atau reaksi sesaat terhadap tugas yang menumpuk.

Tidak jarang, bujukan sampai paksaan terjadi agar anak tetap berangkat ke sekolah tepat waktu.

Namun, dr. Kusuma Minayati, Sp.KJ(K), mengungkapkan, penolakan ini harus dipandang sebagai kondisi yang perlu diawasi lebih lanjut oleh ayah dan ibu.

"Biasanya, gangguan mental di anak bisa muncul sebagai masalah perilaku, seperti penolakan bersekolah," ujar dr. Kusuma dalam sebuah dialog bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia di Fakulitas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026).

Baca juga: Perjuangan Siswa SD di Garut: Berangkat Sekolah Subuh, Susuri Jalan Curam dan Gelap

Malas bersekolah tak selalu karena takut pelajaran

Satu hal yang perlu disadari orangtua adalah keengganan bersekolah bukan hanya masalah akademik yang tertinggal, melainkan hilangnya salah satu fungsi utama anak sebagai makhluk sosial.

Banyak orangtua terjebak pada asumsi bahwa anak tidak mau sekolah karena merasa berat dengan materi pelajaran atau takut menghadapi ujian.

Namun, dr. Kusuma menjelaskan bahwa motivasi seorang anak untuk hadir di sekolah sebenarnya jauh lebih luas dan mendalam daripada sekadar urusan akademik.

Baca juga: Pubertas Dini pada Anak Bisa Meningkatkan Risiko Perundungan, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

Anak-anak bermain bola di Taman Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.Kompas.com/Robertus Belarminus Anak-anak bermain bola di Taman Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.

"Kalau anak enggak mau sekolah itu hal yang sifatnya gawat darurat karena anak itu normalnya 'senang' sekolah," tutur dia.

Bagi anak yang sehat secara mental, sekolah adalah tempat untuk mereka berinteraksi, mengekspresikan diri, dan membangun kompetisi yang sehat dengan teman sebaya.

Interaksi sosial inilah yang biasanya menjadi alasan utama mengapa anak-anak merindukan suasana sekolah setiap harinya.

Baca juga: Peran Orangtua Vs Peran Kakek Nenek dalam Pengasuhan Anak, Komunikasi Jadi Kunci

Oleh karena itu, ketika seorang anak yang biasanya aktif tiba-tiba menolak bersekolah secara konsisten, dr. Kusuma menyarankan agar orangtua tidak hanya fokus pada tindakan "bolos"-nya.

Ayah dan ibu justru harus menggali apa yang hilang dari perasaan senang tersebut. Jika keinginan untuk bermain dan bertemu teman pun ikut hilang, maka ada beban mental yang mungkin tidak sanggup mereka pikul sendirian.

Waspadai perubahan aktivitas

Dokter Kusuma menerangkan, gangguan mental pada fase tumbuh kembang sering kali tidak muncul melalui kata-kata yang rumit, melainkan melalui hilangnya ketertarikan pada hal-hal sederhana yang sebelumnya sangat mereka sukai.

Baca juga: Ketahui 3 Ciri-ciri Gejala Depresi Menurut Psikiater, Termasuk Selalu Sedih

Ilustrasi anak sedih. Child grooming sering bermula dari perhatian yang tampak peduli, tetapi dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang pada korban.SHUTTERSTOCK Ilustrasi anak sedih. Child grooming sering bermula dari perhatian yang tampak peduli, tetapi dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang pada korban.
.

"Misalnya masalah pada belajar atau bermain. Dia biasanya pintar, tapi kok di semester ini nilainya turun. Atau biasanya senang setiap sore dia main, tapi kali ini kebanyakan tidurnya," kata dr. Kusuma.

Halaman:


Terkini Lainnya
Intip Foto Prewedding Justin Hubner dan Jennifer Copper, Anggun dengan Busana Adat Jawa
Intip Foto Prewedding Justin Hubner dan Jennifer Copper, Anggun dengan Busana Adat Jawa
Fashion
Bercanda Boleh, Ini Batas Aman Prank Saat April Fools Menurut Psikolog
Bercanda Boleh, Ini Batas Aman Prank Saat April Fools Menurut Psikolog
Wellness
Jangan Asal Ikut Tren, Operasi Plastik Harus Perhatikan Harmoni Wajah
Jangan Asal Ikut Tren, Operasi Plastik Harus Perhatikan Harmoni Wajah
Beauty & Grooming
Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog
Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog
Wellness
Hubungan Rawan Konflik, 2 Shio Ini Tidak Cocok dengan Shio Babi
Hubungan Rawan Konflik, 2 Shio Ini Tidak Cocok dengan Shio Babi
Relationship
120 Ucapan Ulang Tahun Islami untuk Perempuan, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
120 Ucapan Ulang Tahun Islami untuk Perempuan, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
Wellness
7 Rahasia Tampil Trendi untuk Perempuan Usia 60 Tahun
7 Rahasia Tampil Trendi untuk Perempuan Usia 60 Tahun
Fashion
Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Wellness
Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026
Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026
Wellness
Tradisi April Fools di Berbagai Negara, dari Tempel Ikan hingga Kirim Misi Palsu
Tradisi April Fools di Berbagai Negara, dari Tempel Ikan hingga Kirim Misi Palsu
Wellness
Apa Itu April Fools? Tradisi Iseng 1 April yang Punya Sejarah dan Cerita Unik
Apa Itu April Fools? Tradisi Iseng 1 April yang Punya Sejarah dan Cerita Unik
Wellness
4 Tips Memilih Kalung Sesuai Bentuk Leher Busana agar Elegan
4 Tips Memilih Kalung Sesuai Bentuk Leher Busana agar Elegan
Fashion
Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
Beauty & Grooming
Shio Monyet Paling Cocok dengan 3 Shio Ini, Siapa Saja?
Shio Monyet Paling Cocok dengan 3 Shio Ini, Siapa Saja?
Relationship
Caption LDR Singkat Aesthetic yang Bikin Jarak Terasa Dekat
Caption LDR Singkat Aesthetic yang Bikin Jarak Terasa Dekat
Wellness
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau