"Dalam kasus lain, itu bisa melibatkan ejekan atau mengolok-olok pendapat atau minat orang lain secara terang-terangan," kata Cherry.
Perlakuan tidak menyenangkan dan penolakan ini sering memicu berbagai emosi negatif yang mendalam, seperti rasa sakit hati, rasa malu, rasa bersalah, kesepian, hingga kecemasan sosial.
Kunci utama dari ikatan yang kuat adalah komunikasi yang efektif. Sebaliknya, hubungan yang tidak sehat kerap diwarnai dengan keengganan berdiskusi, sikap defensif, atau harapan tidak masuk akal agar pasangan bisa membaca pikiran.
Kegagalan dalam berkomunikasi ini bahkan telah terbukti secara ilmiah menjadi faktor pemicu perceraian yang dampaknya jauh lebih fatal dibandingkan masalah stres, komitmen, maupun perbedaan kepribadian.
Baca juga: 5 Bahasa Cinta dan Arti Pentingnya dalam Komunikasi
Seiring berjalannya waktu, tekanan hidup bisa memicu seseorang untuk menggunakan mekanisme pertahanan diri yang merusak kelancaran hubungan
Dinamika ini sering ditandai dengan munculnya pengkhianatan, kebiasaan saling menyalahkan, gaslighting, hingga manipulasi finansial.
"Dalam hubungan yang tidak sehat, kamu mungkin merasa harus berhati-hati di sekitar pasangan, atau kamu mungkin merasa selalu harus menyembunyikan apa yang sebenarnya kamu pikirkan atau rasakan," tutur Cherry.
"Kamu bahkan mungkin merasa harus mengorbankan hal-hal yang benar-benar kamu inginkan agar orang lain tetap bahagia," sambung dia.
Baca juga: 3 Tanda Hubungan Kamu dan Dia Akan Langgeng
Indikator lainnya adalah dinamika hubungan sepihak, dimana hanya satu orang yang menguras tenaga dan emosi untuk mempertahankan ikatan tersebut.
Pada akhirnya, pihak yang berjuang sendirian ini akan merasa tidak didukung, terisolasi, dan mengalami kelelahan mental yang luar biasa.
"Terkadang, perilaku tidak sehat dapat muncul selama masa stres ekstrem. Dalam kasus lain, pola perilaku tidak sehat yang terus-menerus dapat memburuk dari waktu ke waktu, atau muncul selama berbagai tahap hubungan," kata Cherry.
Beberapa masalah mungkin masih bisa diperbaiki melalui strategi self--help atau bantuan tenaga profesional kesehatan mental.
Namun, jika hubunganmu sudah melibatkan pelecehan fisik, verbal, atau seksual, prioritas utamamu haruslah mencari jalan keluar demi memastikan keselamatan diri.
Baca juga: Bukan Sekadar Bosan, Ini 4 Tanda Pasangan Sudah Tidak Cinta Lagi
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang