Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kampung Kebon Melati, Permukiman Lama yang Terkepung Gedung Pusat Jakarta

Kompas.com, 29 Desember 2025, 09:29 WIB
Muhammad Isa Bustomi

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Di balik deretan gedung pencakar langit kawasan Thamrin yang menjulang megah, Kampung Kebon Melati tetap bertahan sebagai permukiman lama di jantung Jakarta.

Kampung ini seolah “terkepung” pembangunan pusat bisnis, namun masih menyimpan ruang hijau dan ikatan sosial yang kuat.

Dari gang sempit di Kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, menara-menara kaca kawasan elite Thamrin terlihat jelas.

Hanya beberapa langkah dari pusat aktivitas ekonomi ibu kota, suasana berubah drastis.

Jalan raya yang padat berganti gang aspal sempit, rumah-rumah berdiri rapat, sebagian masih mempertahankan bentuk lama dengan teras kecil, jemuran di lantai atas, serta pot tanaman di depan rumah.

Baca juga: Dari Bank Sampah hingga Maggot, Cara Warga Kebon Melati Kurangi Limbah dari Rumah

Pada Rabu (24/12/2025), Kompas.com menelusuri kawasan kampung yang berada tepat di belakang kawasan Thamrin tersebut.

Meski berada di pusat kota, nuansa hijau masih terasa. Tanaman hias, tanaman obat, hingga pohon pisang tumbuh di pekarangan warga.

Rimbunnya pepohonan membuat udara lebih sejuk dibandingkan kawasan sekitarnya.

Di salah satu sisi kampung, aliran air dari Waduk Melati mengalir tenang.

Jalur setapak berpaving di sepanjang waduk dimanfaatkan warga sebagai ruang bersama.

Bangku sederhana, taman kecil bertuliskan “Taman Dugar RW 06”, serta pagar warna-warni menjadi penanda upaya warga menjaga ruang publik secara swadaya.

Kampung Kebon Melati memiliki lokasi yang sangat strategis.

Selain berdampingan langsung dengan Waduk Melati, kawasan ini berjarak sekitar satu kilometer dari Bundaran HI, dekat Stasiun Karet, serta tidak jauh dari jalur MRT.

Namun, kedekatan dengan pusat bisnis tidak lantas mengubah wajah kampung secara drastis.

Kawasan ini terbagi dalam dua RW, yakni RW 05 dan RW 06. RW 06 menjadi wilayah yang paling sering disorot karena posisinya yang paling “diapit” gedung-gedung tinggi.

Baca juga: Di Balik Gedung Pencakar Langit, Kampung Kebon Melati Bertahan dengan Ruang Hijau

Meski demikian, wilayah ini dikenal mampu menjaga lingkungan tetap hijau dan tertata.

“Betul, wilayah ini memang sering disebut sebagai kampung yang ‘diapit’,” kata Andi (48), Ketua RT 008 RW 06, saat ditemui, Rabu.

Ia mengatakan, banyak orang terkejut ketika pertama kali benar-benar menelusuri kampung tersebut.

“Yang pertama kali benar-benar menelusuri area pusat kota seperti ini, pasti sadar ternyata masih ada kampung yang terasa adem. Padahal di sekelilingnya gedung-gedung tinggi,” ujar Andi.

Menurut Andi, perubahan besar mulai terasa sejak awal 2000-an.

“Kalau ditanya sejak kapan kawasan ini mulai berubah, pembangunan besar-besaran di sekitar sini mulai sekitar tahun 2004,” ucapnya.

Sejak itu, gedung-gedung tinggi berdiri semakin rapat, sementara kampung tetap bertahan di ruang yang kian terhimpit.

“Ada warga yang tidak mau pindah karena harga tanah tidak cocok atau memang sudah nyaman tinggal di sini,” kata Andi.

Baca juga: Cara Merawat Melati di Dalam Rumah agar Subur dan Bisa Berbunga

Halaman:


Terkini Lainnya
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Di Balik Maraknya Jasa Antre, Ada Waktu Berharga yang Ingin Dijaga
Megapolitan
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Isu Harga BBM Naik Bikin Warga Panik, SPBU Jagakarsa Sempat Kehabisan Stok
Megapolitan
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
WFH ASN Beda Hari, Kemendagri Minta Pemkot Bekasi Ikuti Kebijakan Pusat Setiap Jumat
Megapolitan
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Pemkot Tangsel Sebut Kebijakan WFH ASN Bisa Hemat BBM dan Biaya Operasional
Megapolitan
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Bengkel di Pamulang Ludes Terbakar, Diduga akibat Korsleting
Megapolitan
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Nenek Diduga Curi TV di Ruko Kampung Melayu, Terekam CCTV
Megapolitan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Menengok Hunian Baru Warga yang Direlokasi dari Lahan Makam di Jakbar, Tak Lagi Becek-becekan
Megapolitan
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Andrie Yunus, Berkas Dilimpahkan ke Puspom TNI
Megapolitan
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Jasa Joki Antre Kian Diminati, Solusi Praktis atau Cermin Buruknya Layanan Publik?
Megapolitan
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Sopir Pikap Diduga Diperas di Lampu Merah Penjaringan, Pelaku Diburu
Megapolitan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Kasus Kreator Konten Mengaku Diperkosa di Jaksel: Dilaporkan Balik, Proses Berjalan
Megapolitan
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Polisi Kantongi Identitas Pelaku Kasus Alfin yang Terkubur 3 Meter di Cikeas
Megapolitan
Pelayanan Publik di Tangsel Dipastikan Tetap Normal meski ASN WFH Tiap Jumat
Pelayanan Publik di Tangsel Dipastikan Tetap Normal meski ASN WFH Tiap Jumat
Megapolitan
Selokan dan Kali di Ancol Berbau Mirip Kotoran Manusia, DLH Ungkap Sumbernya
Selokan dan Kali di Ancol Berbau Mirip Kotoran Manusia, DLH Ungkap Sumbernya
Megapolitan
Selokan dan Kali di Ancol Jakut Berbau Mirip Kotoran, Airnya Hitam Pekat
Selokan dan Kali di Ancol Jakut Berbau Mirip Kotoran, Airnya Hitam Pekat
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Kampung Kebon Melati, Permukiman Lama yang Terkepung Gedung Pusat Jakarta
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat