TANGERANG, KOMPAS.com - Aroma mentega yang dipanggang bercampur manisnya selai nanas menyambut siapa pun yang memasuki Gang Merpati di Jalan H Unus RT 05/RW 01, Larangan Utara, Kota Tangerang.
Dari dapur-dapur rumah sederhana di kawasan itu, loyang-layang kue nastar keluar hampir setiap hari, terutama menjelang hari raya.
Tak banyak yang menyangka, aktivitas rumahan tersebut perlahan berkembang menjadi sebuah sentra produksi kue kering yang kini dikenal sebagai Kampung Nastar.
Baca juga: Cerita Engineer Asal Tangerang Bertahan di Iran di Tengah Konflik: Setiap Hari Ada Ledakan
Sebelum mendapat julukan itu, warga hanya membuat kue secara mandiri di rumah masing-masing.
Usaha tersebut tumbuh secara alami, tanpa perencanaan khusus untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat industri rumahan.
Salah satu yang merintis usaha tersebut adalah Sri Kusmiati (62), pemilik usaha kue kering bernama Max Amazing Cookies.
Ia merupakan orang pertama di kawasan tersebut yang membuat nastar dan menjualnya.
Sri sudah mulai membuat kue sejak 1997, jauh sebelum nama Kampung Nastar dikenal.
Kala itu, peralatan yang dimilikinya masih sangat terbatas. Bahkan, untuk memanggang kue ia harus meminjam oven milik tetangganya.
"Tahun 1997 itu, saya benar-benar merintis dari nol banget," ujar Sri saat ditemui di rumah produksinya.
Baca juga: Lapangan Padel di Makasar Jaktim Disegel, ternyata Izin Bangunan untuk Kos
Awal mulai usaha tersebut hanya bermodal keberanian dan ketekunan belajar membuat kue.
Pada masa itu, cerita Sri, informasi resep dan teknik membuat kue tidak semudah sekarang.
Menurut Sri, ia harus mencari resep dari berbagai sumber dan mencoba sendiri hingga menemukan rasa yang pas.
"Kalau merintis sekarang mah enak tinggal buka Youtube keluar semua resep. Kalau dulu kita harus jalan ke pusat-pusat makanan, kita harus baca resep-resep," kata dia.
Seiring berjalannya waktu, usaha Sri mulai dikenal di lingkungan sekitar. Beberapa orang yang melihat kegiatannya kemudian tertarik untuk ikut mencoba membuat kue.