JAKARTA, KOMPAS.com - Harga sejumlah aset kripto melemah di tengah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP).
Ekonomi AS kehilangan lapangan kerja pada Februari 2026, saat tekanan cuaca musim dingin ekstrem hingga aksi mogok kerja di salah satu penyedia layanan kesehatan terbesar di negara tersebut.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (7/3/2026), Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan, nonfarm payrolls atau jumlah pekerja di luar sektor pertanian mencapai 92.000 pada Februari 2026.
Baca juga: Harga Bitcoin Naik Turun Tajam, Pasar Masih Dibayangi Perang Iran
Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan yang memproyeksikan penambahan 50.000 pekerjaan.
Penurunan tersebut juga lebih rendah dibandingkan data Januari yang telah direvisi turun menjadi 126.000.
Februari 2026 sekaligus menjadi kali ketiga dalam lima bulan terakhir ketika jumlah payrolls mengalami penurunan, setelah revisi tajam menunjukkan penurunan 17.000 pekerjaan pada Desember 2025.
Pada saat yang sama, tingkat pengangguran di AS naik menjadi 4,4 persen.
Baca juga: Bitcoin Bertahan di Tengah Konflik Timur Tengah, Masih di Level 68.000–72.000 Dollar AS
Kenaikan ini terjadi seiring berkurangnya lapangan kerja di sejumlah sektor utama perekonomian.
Sementara itu, dalam 24 jam terakhir harga aset utama kripto juga anjlok.
Berdasarkan data CoinMarketCap Sabtu (7/3/2026), harga Bitcoin (BTC) turun sekitar 3,62 persen dan diperdagangkan di level 68.029 dollar AS, Ethereum (ETH) turun 3,53 persen ke posisi 1.990,31 dollar AS, Binance Coin (BNB) terkoreksi 1,71 persen ke 628,38 dollar AS.
Tekanan serupa terjadi pada XRP yang melemah sekitar 2,14 persen ke posisi 1,372 dollar AS.
Baca juga: CEO Tokocrypto: Gejolak Geopolitik Tekan Bitcoin, Investor Tetap Buy the Dip
Ilustrasi kripto. Di kelompok altcoin besar lainnya, Solana (SOL) mencatatkan penurunan 3,45 persen ke level 84,79 dollar AS, sedangkan Dogecoin (DOGE) turun 2,98 persen ke posisi 0,09067 dollar AS.
Kripto Cardano (ADA) juga mengalami tekanan dengan koreksi 3,09 persen menjadi 0,2591 dollar AS, sementara Bitcoin Cash (BCH) melemah 1,50 persen ke angka 449,69 dollar AS.
Selain itu, TRON (TRX) mencatatkan penurunan terbatas sekitar 1,01 persen ke posisi 0,2838 dollar AS.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan harga BTC dan aset kripto lainnya cenderung melemah menjelang rilis data NFP karena pelaku pasar global sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Baca juga: Bitcoin Melonjak Hampir 7 Persen, Harga Bertahan di Atas 72.000 Dollar AS
Data ketenagakerjaan Paman Sam seperti NFP sering dijadikan acuan utama untuk menilai seberapa kuat kondisi ekonomi AS, hal itu akhirnya memengaruhi keputusan bank sentral, The Federal Reserve (The Fed), untuk menurunkan atau menahan suku bunga acuan.
“Bitcoin dan aset kripto cenderung melemah menjelang rilis Non-Farm Payrolls karena pasar sedang kembali sangat sensitif terhadap arah suku bunga AS,” ujar Calvin saat dihubungi Kompas.com, Minggu siang ini.
Dalam beberapa hari terakhir, harga Bitcoin bergerak di kisaran 70.000-71.000 dollar AS dan sempat terkoreksi sekitar 2 hingga 3 persen.
Menurutnya, penurunan terjadi karena pasar menghadapi ketidakpastian mengenai kapan The Fed akan mulai memangkas suku bunga.
Baca juga: Harga Bitcoin Bangkit ke 73.000 Dollar AS di Tengah Gejolak Timur Tengah