Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BI Prediksi Penjualan Ritel Naik Jelang Lebaran

Kompas.com, 10 Maret 2026, 13:17 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com – Kinerja penjualan eceran di Indonesia diperkirakan meningkat pada Februari 2026.

Ini seiring meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Ramadhan dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri.

Hal tersebut tercermin dari hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 diprakirakan mencapai 233,5 atau tumbuh 6,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Baca juga: Kota dengan Penjualan Ritel Tertinggi Awal 2026: Surabaya Memimpin

Ilustrasi belanja, belanja di supermarket. PIXABAY/TUNG LAM Ilustrasi belanja, belanja di supermarket.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang tercatat sebesar 5,7 persen.

Peningkatan tersebut antara lain didorong oleh meningkatnya penjualan pada sejumlah kelompok barang, terutama suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta sandang.

Permintaan yang meningkat menjelang Ramadhan dan persiapan Lebaran disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan tersebut.

Secara bulanan, kinerja penjualan eceran juga diperkirakan mengalami peningkatan. Setelah pada Januari 2026 tercatat terkontraksi 2,7 persen secara bulanan (month to month/mtm), pertumbuhan pada Februari 2026 diprakirakan meningkat menjadi 4,4 persen.

Baca juga: Diskon Lebaran hingga 80 Persen, Ritel Targetkan Transaksi Rp 53 Triliun

BI mencatat, hampir seluruh kelompok barang diprakirakan mengalami peningkatan penjualan pada Februari 2026.

Kenaikan tersebut antara lain ditopang oleh penjualan pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi, bahan bakar kendaraan bermotor, serta sandang.

Kinerja penjualan ritel pada Januari 2026

Sebelum memasuki periode peningkatan tersebut, penjualan ritel pada Januari 2026 menunjukkan kinerja yang masih tumbuh secara tahunan.

Ilustrasi Bank IndonesiaSHUTTERSTOCK/HARISMOYO Ilustrasi Bank Indonesia

Survei Penjualan Eceran BI mencatat Indeks Penjualan Riil Januari 2026 sebesar 223,6 atau meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga: Pedagang Keluhkan Ekspansi Ritel Modern, Mendag: Enggak Ada Masalah

Pertumbuhan tahunan ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,5 persen pada Desember 2025.

Menurut hasil survei, peningkatan tersebut terutama bersumber dari kenaikan penjualan pada kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang.

Kelompok barang budaya dan rekreasi tercatat memiliki indeks sebesar 64,0 dan tumbuh 15,9 persen secara tahunan. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memiliki indeks sebesar 315,9 dan tumbuh 8,1 persen secara tahunan.

Subkelompok sandang tercatat memiliki indeks sebesar 86,3 dengan pertumbuhan 3,4 persen secara tahunan.

Baca juga: Menkop Ferry Juliantono Kaji Aturan Ritel Modern, Ini Alasannya

Meski tumbuh secara tahunan, secara bulanan penjualan ritel pada Januari 2026 tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,7 persen.

Penurunan tersebut terjadi setelah pada bulan sebelumnya penjualan eceran tercatat tumbuh 3,1 persen secara bulanan.

Menurut hasil survei, kontraksi tersebut sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru.

Secara bulanan, hanya kelompok barang budaya dan rekreasi yang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,0 persen. Sementara kelompok lainnya berada pada zona kontraksi.

Baca juga: Alfamart Cs Diminta Tahan Ekspansi ke Desa, Asosiasi Ritel: Kami Selalu Berusaha Patuhi Aturan

Kelompok peralatan informasi dan komunikasi tercatat mengalami kontraksi sebesar 7,7 persen secara bulanan.

Ilustrasi konsumen melakukan pemesanan mobil di booth Toyota di IIMS 2026Dok. TAM Ilustrasi konsumen melakukan pemesanan mobil di booth Toyota di IIMS 2026

Penurunan juga terjadi pada kelompok suku cadang dan aksesori sebesar 3,8 persen, makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,5 persen, serta subkelompok sandang sebesar 3,0 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, kinerja penjualan eceran menunjukkan peningkatan secara tahunan.

Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang mencatat pertumbuhan pada sejumlah kelompok barang konsumsi.

Baca juga: Menkop Ferry: Kepala-kepala Daerah yang Inginkan Moratorium Ritel Modern...

“Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang,” kata Ramdan dalam siaran pers, dikutip pada Selasa (10/3/2026).

Peningkatan penjualan di berbagai kota

Survei BI juga mencatat kinerja penjualan ritel di sejumlah kota survei menunjukkan pertumbuhan secara tahunan pada Januari 2026.

Beberapa kota mencatat pertumbuhan penjualan ritel yang cukup tinggi. Semarang, termasuk Purwokerto, tercatat memiliki indeks sebesar 87,9 dengan pertumbuhan 17,0 persen secara tahunan.

Surabaya memiliki indeks sebesar 491,9 dengan pertumbuhan 15,0 persen secara tahunan. Sementara itu, Denpasar memiliki indeks sebesar 124,4 dengan pertumbuhan 6,7 persen secara tahunan.

Baca juga: Studi Ritel Terbaru, 45 Persen Konsumen Pakai AI buat Belanja Ramadhan

Makassar juga mencatatkan pertumbuhan dengan indeks sebesar 214,2 atau meningkat 2,0 persen secara tahunan.

Di sisi lain, sejumlah kota mencatatkan perlambatan kinerja penjualan ritel. Survei menunjukkan penurunan terdalam secara bulanan terjadi di Manado sebesar 31,9 persen.

Penurunan juga tercatat di Jakarta sebesar 6,0 persen dan Surabaya sebesar 4,9 persen.

Namun demikian, terdapat beberapa kota yang masih mencatatkan pertumbuhan secara bulanan. Di antaranya Semarang yang tumbuh 19,2 persen, Banjarmasin 3,6 persen, serta Medan 3,1 persen.

Ilustrasi konsumen Indonesia belanja produk gaya hidupUnsplash Ilustrasi konsumen Indonesia belanja produk gaya hidup

Baca juga: Dua Raksasa Ritel Arab Saudi Ini Akan Serap Beras Premium Bulog

Prospek penjualan ritel ke depan

Responden survei memperkirakan penjualan eceran pada tiga bulan yang akan datang cenderung stabil.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan untuk April 2026 yang tercatat sebesar 146,7, relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya.

Stabilnya ekspektasi penjualan tersebut antara lain dipengaruhi oleh normalisasi kegiatan ekonomi setelah periode Idul Fitri 1447 Hijriah.

Sementara itu, dalam jangka enam bulan ke depan penjualan ritel diperkirakan meningkat. Indeks Ekspektasi Penjualan untuk Juli 2026 tercatat sebesar 149,1, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 135,4.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Aturan untuk Seimbangkan Persaingan UMKM dan Ritel Modern

Peningkatan ekspektasi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan pada periode peak season liburan sekolah serta berbagai program promosi seperti mid season sale.

Ekspektasi harga barang

Selain memantau perkembangan penjualan ritel, survei BI juga mencatat perkembangan ekspektasi harga barang di tingkat pedagang.

Dari sisi harga, tekanan inflasi dalam tiga bulan ke depan diprakirakan menurun. Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) April 2026 yang tercatat sebesar 153,9, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 175,7.

Penurunan tersebut disebut sejalan dengan normalisasi harga setelah periode HBKN Idulfitri 1447 Hijriah.

Baca juga: Menko Muhaimin Sebut Ritel Modern Ancam UMKM

Sementara itu, dalam jangka enam bulan ke depan tekanan harga diprakirakan meningkat. Indeks Ekspektasi Harga Umum Juli 2026 tercatat sebesar 157,1, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 156,3.

Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan harga yang biasanya terjadi pada awal tahun ajaran baru.

Survei penjualan eceran BI

Survei Penjualan Eceran merupakan survei bulanan yang dilakukan BI untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan konsumsi masyarakat dan perkembangan permintaan domestik.

Survei ini telah dilaksanakan sejak September 1999.

Baca juga: Grand Mall Bekasi Tutup, Pengusaha: Industri Ritel Tak Sepenuhnya Baik-baik Saja

Sejak Januari 2015, survei dilakukan terhadap sekitar 700 pengecer sebagai responden dengan metode purposive sampling di 10 kota, yaitu Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Medan, Purwokerto, Makassar, Manado, Banjarmasin, dan Denpasar.

Indeks Penjualan Riil dihitung dengan menggunakan beberapa komoditas berdasarkan tabel input-output dan bobot kota yang mencerminkan pangsa konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik regional bruto.

Melalui survei ini, BI memantau dinamika konsumsi masyarakat di berbagai kelompok barang serta memproyeksikan perkembangan penjualan ritel dan ekspektasi harga pada periode mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau