Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asita Sebut Penghapusan Tiket Transit di OTA Rugikan Penumpang

Kompas.com, 10 Maret 2026, 14:41 WIB
Kiki Safitri,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) menilai penghapusan kebijakan transit oleh online travel agent (OTA) berdampak pada konektivitas yang bisa merugikan penumpang.

Hal ini menyusul wacana pemerintah untuk menghentikan praktik penjualan tiket untuk rute transit oleh OTA.

Ketua Asita Nunung Rusmiati mengatakan, saat peak season seperti momentum mudik Lebaran, banyak penumpang yang membutuhkan lebih banyak konektivitas untuk menjangkau setiap daerah melalui jalur udara.

“Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi transparansi pilihan perjalanan. Selama ini opsi penerbangan transit justru menjadi solusi penting bagi konektivitas di Indonesia yang merupakan negara kepulauan,” kata Nunung dalam keterangan resmi, Selasa (10/3/2026).

Baca juga: PHRI: Menutup Opsi Transit di OTA Bukan Solusi Tiket Pesawat Mahal

Dia mengatakan, dengan ribuan pulau dan banyak kota yang belum memiliki penerbangan langsung, transit kerap menjadi satu-satunya cara menghubungkan perjalanan antardaerah.

Menurut dia, opsi penerbangan transit justru selama ini menjadi salah satu solusi konektivitas di negara kepulauan seperti Indonesia.

“Banyak kota di Indonesia yang memang belum memiliki penerbangan langsung, sehingga transit menjadi cara untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain,” jelas dia.

Ia menambahkan, jika opsi tersebut dihapus dari OTA, masyarakat justru akan kehilangan gambaran lengkap mengenai pilihan perjalanan yang tersedia.

Nunung bilang, kehadiran OTA selama ini juga telah membantu konsumen merancang perjalanan sesuai kebutuhan, baik dari sisi waktu maupun anggaran.

"Padahal OTA hadir untuk membantu konsumen merancang perjalanan yang paling sesuai dengan kebutuhan waktu dan anggaran mereka," ucapnya.

Nunung mengingatkan bahwa kondisi geografis Indonesia membuat konektivitas udara sangat kompleks.

Tidak semua kota terhubung dengan penerbangan langsung, sehingga transit merupakan bagian dari sistem transportasi yang sudah berjalan.

“Kita harus ingat, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dan ratusan bandara. Tidak semua kota terhubung dengan penerbangan langsung. Dalam konteks itu, transit bukan masalah, justru bagian dari solusi konektivitas nasional,” jelasnya.

Di sisi lain, Asita melihat kebijakan tersebut akan berdampak pada cara masyarakat mencari tiket pesawat.

Sebab, selama ini sebagian besar konsumen terbiasa menggunakan OTA untuk menemukan kombinasi penerbangan dengan harga tertentu.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau