JAKARTA, KOMPAS.com - Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) menilai penghapusan kebijakan transit oleh online travel agent (OTA) berdampak pada konektivitas yang bisa merugikan penumpang.
Hal ini menyusul wacana pemerintah untuk menghentikan praktik penjualan tiket untuk rute transit oleh OTA.
Ketua Asita Nunung Rusmiati mengatakan, saat peak season seperti momentum mudik Lebaran, banyak penumpang yang membutuhkan lebih banyak konektivitas untuk menjangkau setiap daerah melalui jalur udara.
“Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi transparansi pilihan perjalanan. Selama ini opsi penerbangan transit justru menjadi solusi penting bagi konektivitas di Indonesia yang merupakan negara kepulauan,” kata Nunung dalam keterangan resmi, Selasa (10/3/2026).
Baca juga: PHRI: Menutup Opsi Transit di OTA Bukan Solusi Tiket Pesawat Mahal
Dia mengatakan, dengan ribuan pulau dan banyak kota yang belum memiliki penerbangan langsung, transit kerap menjadi satu-satunya cara menghubungkan perjalanan antardaerah.
Menurut dia, opsi penerbangan transit justru selama ini menjadi salah satu solusi konektivitas di negara kepulauan seperti Indonesia.
“Banyak kota di Indonesia yang memang belum memiliki penerbangan langsung, sehingga transit menjadi cara untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain,” jelas dia.
Ia menambahkan, jika opsi tersebut dihapus dari OTA, masyarakat justru akan kehilangan gambaran lengkap mengenai pilihan perjalanan yang tersedia.
Nunung bilang, kehadiran OTA selama ini juga telah membantu konsumen merancang perjalanan sesuai kebutuhan, baik dari sisi waktu maupun anggaran.
"Padahal OTA hadir untuk membantu konsumen merancang perjalanan yang paling sesuai dengan kebutuhan waktu dan anggaran mereka," ucapnya.
Nunung mengingatkan bahwa kondisi geografis Indonesia membuat konektivitas udara sangat kompleks.
Tidak semua kota terhubung dengan penerbangan langsung, sehingga transit merupakan bagian dari sistem transportasi yang sudah berjalan.
“Kita harus ingat, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dan ratusan bandara. Tidak semua kota terhubung dengan penerbangan langsung. Dalam konteks itu, transit bukan masalah, justru bagian dari solusi konektivitas nasional,” jelasnya.
Di sisi lain, Asita melihat kebijakan tersebut akan berdampak pada cara masyarakat mencari tiket pesawat.
Sebab, selama ini sebagian besar konsumen terbiasa menggunakan OTA untuk menemukan kombinasi penerbangan dengan harga tertentu.