Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mudik dan Lebaran Angkat Asa Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 di Atas 5 Persen

Kompas.com, 23 Maret 2026, 09:19 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com — Momentum mudik dan perayaan Idul Fitri 2026 diperkirakan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun ini.

Pemerintah, bank sentral, pelaku usaha, hingga ekonom menilai peningkatan konsumsi masyarakat, percepatan belanja negara, serta berbagai stimulus kebijakan dapat mendorong aktivitas ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah program untuk menjaga daya beli sekaligus mendorong mobilitas masyarakat selama Ramadhan hingga Lebaran.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Pelit Lapangan Kerja

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.PIXABAY Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ia menyebut kebijakan tersebut antara lain pemberian potongan harga (diskon), penerapan skema work from anywhere (WFA), serta berbagai bantuan sosial dan bantuan pangan.

“Berharap dengan kemenangan ini kita bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 5,5 persen,” ujar Airlangga saat ditemui dalam acara open house Lebaran, Sabtu (21/3/2026).

Dalam kesempatan itu, Airlangga juga menyinggung dinamika global yang masih menjadi tantangan bagi perekonomian.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir batin dan dalam suasana ini tentu kita mengharap kita bersama-sama menghadapi gejolak krisis minyak ke depan,” ucap dia.

Baca juga: Purbaya dan Airlangga Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Kuat

Konsumsi domestik dan HBKN dorong ekonomi

Bank Indonesia (BI) menilai momentum penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus dijaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 diprakirakan meningkat ditopang permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga yang menguat seiring perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

“Momentum penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus dijaga di tengah berlangsungnya perang di Timur Tengah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 meningkat ditopang permintaan domestik,” ujar Perry dalam Rapat Dewan Gubernur BI Maret 2026, Selasa (17/3/2026).

Ia menambahkan, mobilitas masyarakat yang tinggi selama HBKN seperti Tahun Baru Imlek, Nyepi, dan Idul Fitri menjadi faktor pendorong konsumsi.

Baca juga: Pemerintah Harap Lebaran Angkat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026

“Kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 itu masih akan tetap tinggi,” jelas Perry.

Menurut dia, peningkatan konsumsi juga didukung berbagai program stimulus pemerintah, pelonggaran kebijakan moneter BI, serta perbaikan ekspektasi konsumen.

Selain konsumsi, investasi diperkirakan tetap tumbuh, didorong realisasi program pemerintah seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan proyek hilirisasi sumber daya alam.

“Jadi dukungan pertumbuhan ekonomi akan tetap tinggi pada Kuartal I. Dan tentu saja itu kami perkirakan juga akan tetap tinggi dan juga akan mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi ke depan,” tuturnya.

Baca juga: Geliat Ramadhan dan Lebaran Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen

BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen secara tahunan.

Optimisme pemerintah di atas 5 persen

Pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 dapat berada di atas 5 persen, seiring terjaganya daya beli masyarakat selama Ramadhan hingga Lebaran.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,6 hingga 5,7 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ditemui usai melaksanakan Shalat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Salahuddin, Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ditemui usai melaksanakan Shalat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Salahuddin, Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

“Pertumbuhan ekonomi bisa 5,6-5,7 persen, kalau perkiraan kasar ya. Itu sudah lumayan bagus lah, di tengah gejolak global sekarang,” ujarnya di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Baca juga: BI: Hari Raya hingga THR Topang Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026

Ia mengatakan dampak konflik global masih berupaya diserap pemerintah agar tidak langsung dirasakan masyarakat, salah satunya dengan memastikan subsidi energi tetap berjalan.

“Dampak global saat ini masih belum terasa karena di-absorb (diserap) oleh pemerintah. Jadi kita menjaga betul supaya masyarakat bisa beraktivitas dengan normal,” kata Purbaya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau