NEW YORK, KOMPAS.com - Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin di Amerika Serikat (AS) sudah melonjak lebih dari 30 persen sejak konflik di Timur Tengah mencuat pada akhir Februari 2026. Kini, harga bensin di AS mendekati 4 dollar AS per galon.
Rata-rata harga bensin eceran AS tercatat sebesar 3,92 dollar AS per galon pada Senin (23/3/2026) pagi, berdasarkan data GasBuddy.
Sebagai gambaran, 1 galon setara dengan 3,785 liter. Dengan harga 3,92 dollar AS per galon, maka harga per liter sekitar 1,04 dollar AS. Jika dikonversi ke rupiah, nilainya setara sekitar Rp 17.530 per liter (dengan asumsi kurs Rp 16.933,5 per dollar AS).
Lonjakan harga bensin terjadi meski Presiden AS Donald Trump telah berupaya menekan kenaikan harga dan mengatasi gangguan pasokan.
Analis memperkirakan harga masih akan terus meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah.
Baca juga: Menkeu Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir Tahun
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS tercatat naik hampir 30 dollar AS atau 43 persen, dari 67,02 dollar AS menjadi 96,14 dollar AS per barel dalam periode yang sama.
Analis GasBuddy, Patrick De Haan, menyebut harga BBM kemungkinan segera menembus angka psikologis baru.
"Sekarang tampaknya bensin akan mencapai 4 dollar AS per galon, dan bisa naik menuju 4,10 dollar AS per galon atau lebih," tulisnya di platform X.
Level 4 dollar AS per galon terakhir kali tercapai pada Agustus 2022. Kenaikan ini berpotensi menambah tekanan bagi konsumen yang sudah terbebani inflasi.
Lonjakan harga BBM juga menjadi tantangan politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu Kongres AS pada November 2026 mendatang.
Baca juga: Trump Sebut AS-Iran Berunding Akhiri Perang, Harga Minyak Dunia Langsung Jatuh 11 Persen
Sebelumnya, Trump berjanji akan menurunkan harga energi dan meningkatkan produksi minyak serta gas domestik.
Namun, sejauh ini masa jabatan keduanya diwarnai oleh pasar yang bergejolak, perubahan kebijakan seperti tarif, serta ketegangan geopolitik.
Perang antara AS dan Israel melawan Iran turut mengganggu pasokan dari salah satu kawasan penghasil minyak terbesar di dunia.
Serangan Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz telah menghambat ekspor dari produsen di Timur Tengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang